Patriotisme : Antisipasi Pudarnya Nasionalisme Pemuda

Antisipasi Pudarnya Nasionalisme Pemuda Peringatan Hari Sumpah Pemuda ANTARA/Puspa Perwitasari Seorang pekerja membersihkan diorama di Museum Sumpah Pemuda, Jakarta Pusat, Senin (26/10). Peringatan Sumpah Pemuda ke-81 pada 28 Oktober mendatang menjadi momentum bagi seluruh elemen bangsa untuk mengenang kembali tekad pemuda Indonesia yang mengikrarkan komitmen persatuan dan kesatuan Indonesia. [JAKARTA] Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Ungkapan itu tampaknya sudah mulai dilupakan oleh generasi penerus setelah 64 tahun kemerdekaan Indonesia. Kepedulian terhadap sejarah kini menjadi pudar seiring dengan perkembangan zaman. Begitu juga menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh setiap tanggal 28 Oktober. Peringatan perjuangan para pemuda dari seluruh pelosok Indonesia yang kala itu berjuang merebut kemerdekaan, kini ditandai oleh pudarnya makna perjuangan para pemuda. Demikian disampaikan oleh Kepala Museum Sumpah Pemuda, Agus Nugroho, kepada SP, di Jakarta, Selasa (27/10). Menurutnya, kunjungan para pelajar dan mahasiwa yang merupakan refleksi generasi elite angkatan 28 (generasi pelopor sumpah pemuda) dirasa sangat kurang. “Kepedulian terhadap Hari Sumpah Pemuda semestinya sudah mulai terlihat, dari antusiasme para pemuda mengetahui sejarah di Museum Sumpah Pemuda. Namun, tampaknya dari tahun ke tahun, antusiasme tersebut memudar dan kunjungan pun mulai sedikit,” katanya. Kunjungan ke Museum Sumpah Pemuda, kata Agus, lebih banyak dilakukan oleh para pelajar yang mendapat tugas dari sekolah. Hanya sebagian kecil pelajar dan mahasiswa yang datang karena kesadaran pada perjuangan generasi terdahulu. Agus juga menambahkan, padahal setiap tahunnya Museum Sumpah Pemuda selalu mereformasi diri agar menarik para pengunjung, terutama para pelajar dan mahasiswa. Letak museum yang dekat dengan beberapa kampus dan sekolah, ternyata juga tidak mendongkrak jumlah pengunjung setiap hari. Pada 2009, Museum Sumpah Pemuda menargetkan jumlah pengunjung mencapai 12.000 orang atau 1.000 orang per bulan, setelah pada 2008 pengunjung hanya mencapai 10.500 orang. Namun, target tersebut diperkirakan tidak akan tercapai, karena hingga Oktober, jumlah pengunjung masih berkisar 8.000 orang. “Dengan harga tiket yang sangat murah, yakni 750 rupiah untuk dewasa dan 250 rupiah untuk anak-anak, jumlah kunjungan dirasa masih sedikit. Pada Hari Sumpah Pemuda, kami malah memberlakukan tarif gratis agar pengunjung meningkat,” tambahnya. Refleksi AK Gani Sementara itu, menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda, besok, Rabu (28/10), Museum Sumpah Pemuda akan melaksanakan upacara yang akan dihadiri oleh Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala, Departemen Ke-budayaan dan Pariwisata, Hari Untoro Drajat. Di samping itu, akan ada pameran tentang salah satu anggota kongres angkatan 28 yang memproklamasikan Sumpah Pemuda. “Kami akan mengusung tokoh kongres serta anggota Komisi Besar Indonesia Muda (KBIM) Adnan Kapau Gani. Dia adalah seorang pemuda yang berprofesi sebagai dokter kala itu, yang berjuang untuk rakyat miskin,” ujar Durahman, Kepala Preparasi dan Konservasi Museum Sumpah Pemuda. [FLS] 2009-10-27Revitalisasi Semangat Sumpah Pemuda dengan Keteladanan [JAKARTA] Pemuda itu selalu membutuhkan keteladanan. Kalau pemimpinnya memberikan teladan yang baik, termasuk untuk menjaga keindonesiaan, pemudanya akan setia. Karena itu, semangat Sumpah Pemuda 1928 perlu direvitalisasi dengan keteladanan pemimpin di segala tingkatan melalui kebijakan-kebijakan dan tindakannya. Hal itu dikemukakan pengamat pendidikan Darmaningtyas, kepada SP, di Jakarta, Selasa (27/10) menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober. Darmaningtyas mengatakan, selain revitalisasi melalui keteladanan, semangat Sumpah Pemuda harus ditanamkan dan ditumbuhkan melalui pembenahan arah pendidikan nasional. Persoalannya, katanya, arah pendidikan nasional Indonesia berjalan tanpa falsafah yang jelas. Kacaunya dunia pendidikan nasional disebabkan oleh tidak adanya landasan falsafah yang mendasari praksis pendidikan di lapangan. Landasan falsafah pendidikan yang dimaksudkan adalah visi bersama yang mampu mempertemukan berbagai pemikiran tentang praksis pendidikan nasional. Kealpaan falsafah ini, telah mereduksi perbincangan tentang masalah pendidikan yang terjebak pada persoalan bersifat teknis metodologis. Dia juga menilai, kesalahan terbesar pemerintah dalam hal pengembangan pendidikan adalah terlalu kuatnya intervensi politis, sehingga dunia pendidikan bergantung pada interes politik kelompok penguasa. Dia melanjutkan, untuk dapat melaksanakan paradigma pendidikan, generasi muda harus mendapatkan pendidikan nilai yang di dalamnya ada agama, ideologi, budaya bangsa, pendidikan karakter, serta politik kebangsaan. Pendidikan yang berkarakter itu menekankan tiga komponen karakter yang baik, yaitu pengetahuan tentang moral, perasaan tentang moral, dan perbuatan bermoral. Kegagalan Dia mengingatkan, semua hal baik itu bakal sia-sia jika tidak dibarengi dengan pendidikan politik bagi generasi muda. Dengan pendidikan politik, bisa diperoleh generasi yang berkepribadian utuh, berketerampilan, sekaligus memiliki kesadaran yang tinggi sebagai warga negara. Dia menegaskan, besarnya pengaruh ormas keagamaan dan partai politik tertentu yang telah menunggangi sektor pendidikan untuk kepentingan kekuasaan dapat dijadikan salah satu alasan gagalnya program pendidikan. Politisasi pendidikan dalam bentuk regulasi kebijakan di daerah dalam bentuk peraturan daerah yang cenderung diskriminatif dan jauh dari semangat pluralisme harus dihentikan. “Sungguh memprihatinkan kalau para elite kita tidak mencermati atau pura-pura tidak tahu dengan fenomena pendidikan nasional, yang sudah melenceng ke arah politisasi untuk kepentingan kelompok tertentu. Kalau visi pendidikan nasional tidak lagi membentuk karakter keindonesiaan, ke depan sulit mengharapkan generasi muda bangsa memiliki semangat nasionalisme, seperti dirintis para pendiri bangsa ini. Oleh karena itu, setiap kebijakan pendidikan nasional haruslah selalu mengarah pada tujuan bersama bangsa ini yang pluralis, bukan menuju hegemoni mayoritas kelompok atau kepentingan ideologi tertentu. Sementara itu, Direktur Institut for Education Reform Paramadina Utomo Dananjaya di tempat terpisah mengatakan, pemuda Indonesia masih memiliki semangat nasionalis, salah satunya dengan menghargai kebinekaan sebagai ciri khas bangsa. Meskipun diakui, akhir-akhir ini bangsa Indonesia terganggu oleh gerakan transnasional, dengan paham antipluralisme dan intoleransinya. Namun, jumlah kelompok yang sektarian ini sangat sedikit, bila dibanding dengan pemuda yang pluralis. [W-12/D-13] /Home/Oase/Cakrawala Sumpah Pemuda di Reboan dok. sastra reboan Selasa, 27 Oktober 2009 | 02:10 WIB Adalah kita yang tak bisa lepas dari lingkungan kita. Negeri ini tengah banyak mengajarkan kita pada suatu karakter kita sebagai bangsa Indonesia. Jika diibaratkan tubuh, kita adalah satu tubuh. Jika di Tasik, Jambi, Padang, Pariaman, Bau-Bau, Manokwari, dan beberapa daerah lainnya tengah dilanda gempa, sudah sepatutnya kita yang di Jakarta turut merasakan sakit yang sama, berempati, dan guyub. Demikian pula dengan adanya pemerintahan baru, yang bisa mendatangkan harapan, kecemasan, kewaspadaan dan lainnya, kita juga seharusnya bisa memperlihatkan karakter kita sebagai bangsa Indonesia yang selalu mengutamakan musyawarah dan mufakat. Selain itu pula, di bulan Oktober ini, kita juga kembali diingatkan untuk memperbaiki ikrar kita satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. Dan untuk merefleksi bagaimana bahasa Indonesia berkembang menjadi salah satu bahasa yang di beberapa negara mulai diminati untuk dipelajari, di Reboan 28 Oktober nanti akan dihadirkan seorang Gerson Poyk, dia yang dikenal sebagai sastrawan dan juga ahli dalam bahasa Indonesia. Menjadi satu tubuh, tentu tidak melupakan keragaman budaya yang kita miliki. Bahkan kita harus menjaga dan melestarikan. Salah satu bentuk kesenian yang sudah mulai jarang dipertunjukkan adalah tari ngremo dan parikan. Ngremo adalah pembukaan untuk kesenian teater Ludruk dari Jawa Timur. Sedangkan parikan adalah pantun berbahasa Jawa. Di reboan mendatang ada beberapa kolaborasi penyair dari beragam daerah. Seperti Ponco, Hari dan Sandi, yang datang dari Yogyakarta. Dan beberapa penyair muda lainnya seperti Pringadi Abdi yang sedang kuliah di Palembang. Di sisi musik, ada sebuah band yang menyuarakan semangat cinta damai bernama Filo, yang terdiri dari Arya (gitar), Rangga (bass, keyboard), Demmy (vocal, gitar), Eriel (drum). Band tersebut juga akan berkolaborasi dengan Akmal Nasery Basral yang kali ini mencoba keahliannya yang lain selain menulis novel dan cerpen serta puisi. Penampil lainnya adalah seorang penulis yang juga aktivis hak-hak wanita, Mariana Amiruddin yang saat ini sedang mempersiapkan novelnya yang berjudul “Penembak Jarak Jauh”. Petikan novel itu akan dibacakan sang penulis di Rebaon. Reboan juga sering memperkenalkan buku yang baru terbit, baik karya penulis lama atau baru pertama kalinya menerbitkan bukunya. Kali ini Jodhi Yudono, salah seorang blogger Kompasiana, dengan bukunya berjudul “Mbah Surip We Love You Full”. Buku setebal 145 halaman dan diterbitkan Grasindo ini merupakan buku yang paling mampu meraba jeroan Mbah Surip dibanding buku-buku Mbah Surip lainnya yang pernah terbit beberapa saat setelah seniman berambut rasta ini meninggal dunia. Tidak aneh, karena Jodhi yang kini bertugas sebagai jurnalis Kompas.com, adalah teman dekat Mbah Surip, baik dalam berkesenian maupun dalam bersosialisasi. Dengan keragaman seperti itu, maka tema yang diusung oleh Reboan kali ini adalah : Saudaraku Berk/gabung. (*) JY Editor: jodhi Dokumen Otentik SP By Republika Newsroom Selasa, 27 Oktober 2009 pukul 18:45:00 Tidak Ada Dokumen Otentik Tentang Sumpah Pemuda MEDAN–Sumpah pemuda yang diperingati setiap tahun oleh bangsa ini ternyata tidak memiliki dokumen dan bukti sejarah otentik, yang ada adalah keputusan rapat pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. “Berdasarkan data yang ada, tidak pernah ada satu baris pun ditulis kata Sumpah Pemuda dan para pemuda juga tidak sedang melakukan sumpah saat itu,” kata Kepala Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial (Pussis) Universitas Negeri Medan (Unimed) Dr Phil Ichwan Azhari, di Medan, Selasa. Ia mengatakan, berdasarkan catatan dan dokumen sejarah diketahui bahwa hari Sumpah Pemuda yang diperingati sebagai peristiwa nasional, merupakan suatu hasil rekontruksi dari para “Bapak Pembangun Bangsa” ini yang didasarkan pada ideologi-ideologi dari generasi yang berbeda. “Dalam arti bahwa peristiwa 28 Oktober 1928, yang diperingati sebagai hari Sumpah Pemuda adalah rekontruksi simbol yang sengaja dibentuk kemudian setelah sekian lama peristiwa tersebut berlalu, yaitu adanya pembelokan kata `Poetoesan Congres` menjadi kata `Sumpah Pemuda`, ” katanya. Lebih lanjut Ichwan mengatakan, apabila teks asli hasil kongres pemuda 28 Oktober 1928 diteliti maka tidak akan ditemukan kata sumpah pemuda melainkan Poetoesan Congres. Menurut dia, hal tersebut dilakukan sebagai cara Soekarno untuk memberi peringatan keras kepada dalang gerakan separatis yang mulai muncul menentang keutuhan Bangsa Indonesia. Dalam arti bahwa, pembelokan kata “Poetoesan Congres” menjadi kata “Sumpah Pemuda” ditujukan dan digunakan sebagai senjata ideologi terhadap pihak separatis yang dinyatakan melanggar sumpah pemuda tahun 1928. Sebagaimana diketahui, lanjutnya, bahwa pada tanggal 28 Oktober 1954, Presiden Soekarno dan Muhammad Yamin membuka Kongres Bahasa Indonesia yang kedua di Medan, dan Yamin dalam kapasitasnya sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kabinet Ali Sastroamijoyo memberikan pidato pembukaan. Pada saat itu, Soekarno dan Yamin, sedang membangun simbol yang menjadi bagian dari susunan ideologi sebuah bangsa dan negara, dimana pilihannya jatuh pada tanggal 28 Oktober 1928 dan saat itu pula kata “Poetoesan Congres” dibelokkan menjadi “Sumpah Pemuda”. Sejak saat itu yakni tahun 1954, tanggal 28 Oktober dianggap sebagai hari kelahiran sumpah pemuda untuk pertama kalinya. “Dengan kata lain bahwa Kongres Bahasa Indonesia kedua di Medan tahun 1954 itu, telah menjadi awal yang menganggap tanggal 28 Oktober 1928 sebagai hari kelahiran Sumpah Pemuda,” katanya. Staf peneliti Pussis Unimed, Erond Damanik, mengatakan, pada intinya pembelokan kata Poetoesan Congres menjadi Sumpah Pemuda adalah sebagai upaya untuk membentuk kesadaran nasional atas kemerdekaan bangsa ini. Namun demikian, tidak semestinya peristiwa tersebut melahirkan kontroversi baru dalam pembelajaran sejarah nasional Indonesia yang sudah semestinya mendapat penjelasan yang baik dalam pembelajaran sejarah Indonesia. “Ini berarti bahwa perlu dilakukan pengkajian dan penelitian komprehensif sehingga peristiwa 28 Oktober 1928 tersebut dapat dipahami secara detail dan benar,”katanya. ant/ahi

Sumber : http://jakarta45.wordpress.com

Posted in Uncategorized | Leave a comment

SEBUAH CATATAN MENJELANG SUMPAH PEMUDA 2010 : TEKAD LEPAS DARI KEKUATAN ASING

Seusai Demo 20 Oktober 2010, Mahasiswa, Pemuda dan aktivis sosial yang peduli pada sejarah bangsa kembali akan melakukan Demo Lebih Besar lagi yang rencananya dilaksanakan tanggal 28 Oktober 2010. Hari itu dikenal sebagai Hari Peringatan Sumpah Pemuda yang secara essensial mempunyai makna tekad sebuah bangsa untuk merdeka. Peringatan Sumapah Pemuda 2010 tahun ini, akan menjadi relevan jika dibarengi tekad Pemuda Indonesia, dengan Sumpah Pemuda yang berisi tekad untuk kembali sebagai bangsa yang berdaulat penuh, tanpa campur tangan kekuanan asing dalam semua bidang kehidupan berbangsa. Hal ini perlu ditekankan mengingat Ibu Pertiwi semakin bersedih, air mata berlinang membanjiri setiap sudut negeri ini dengan kisah dominan kemiskinan dan kemelaratan. Bangsa kaya raya, Nuswantara negeri agung yang gemah ripah loh jinawi, kini justru menjadi bangsa kuli di negeri sendiri. Berikut catatan yang perlu diketahui oleh kita semua, agar kita benar-benar memahami realita, termasuk dalam mensikapi tekad para soehartois yang ingin menjadikan bosnya sebagai pahlawan nasional, sebuah gelar yang hanya berhak untuk diberikan kepada mereka yang benar 2 “heroik” dalam hidupnya. Terjerat Kekuatan Barat Keterlibatan AS dalam kupdeta militer yang merangkap di tahun 1965 di Indonesia sudah banyak ditulis. Bung Karno (BK) yang mempunyai visi jauh kedepan sudah menetapkan bahwa Indonesia adalah non blok, mandiri (berdikari), dan tidak mau tergantung pada utang luar negeri (“Go to hell with your aids!”). Sayang sekali, Soeharto dkk. melakukan konspirasi dengan USA (via CIA) menusuk bangsanya sendiri. Negara-negara sahabat Bung Karno, sperti RRC dan India, yang mempunyai prinsip serupa dengan BK dan tidak mempunyai pengkianat negara semacam Soeharto Cs., saat ini sudah menjadi bangsa yang sehat, normal, bahkan adidaya! Presiden SBY baru-baru ini terpaksa mengulangi langkah BK lagi dengan mengunjungi RRC dan India. Dalam buku yang ditulis John Pilger dan yang juga ada film dokumenternya, dengan judul The New Rulers of the World, antara lain, dikatakan: “Dalam dunia ini, yang tidak dilihat oleh bagian terbesar dari kami yang hidup di belahan utara dunia, cara perampokan yang canggih telah memaksa lebih dari sembilan puluh negara masuk ke dalam program penyesuaian struktural sejak tahun delapan puluhan, yang membuat kesenjangan antara kaya dan miskin semakin menjadi lebar”. Sejak 1967 Indonesia sudah mulai dihabisi (plundered) dengan tuntunan oleh para elite bangsa Indonesia sendiri yang ketika itu berkuasa. Sejak itu, Indonesia dikepung oleh kekuatan Barat yang terorganisasi dengan sangat rapi. Instrumen utamanya adalah pemberian utang terus-menerus sehingga utang luar negeri semakin lama semakin besar. Dengan sendirinya, beban pembayaran cicilan utang pokok dan bunganya semakin lama semakin berat. Kita menjadi semakin tergantung pada utang luar negeri. Ketergantungan inilah yang dijadikan leverage atau kekuatan untuk mendikte semua kebijakan pemerintah Indonesia. Tidak saja dalam bentuk ekonomi dan keuangan, tetapi jauh lebih luas dari itu. Utang luar negeri kepada Indonesia diberikan secara sistematis, berkesinambungan, dan terorganisasi secara sangat rapi dengan sikap yang keras serta persyaratan-persyaratan yang berat. Sebagai negara pemberi utang, mereka tidak sendiri-sendiri, tetapi menyatukan diri dalam organisasi yang disebut CGI. Setelah keuangan negara dibuat bangkrut, Indonesia diberi pinjaman yang tidak boleh dipakai sebelum cadangan devisanya sendiri habis total. Pinjaman diberikan setiap pemerintah menyelesaikan program yang didiktekan oleh IMF dalam bentuk LoI demi LoI. Kalau setiap pelaksanaan LoI dinilai baik, pinjaman sebesar rata-rata USD 400 juta diberikan. Pinjaman ini menumpuk sampai jumlah USD 9 miliar, tiga kali lipat melampaui kuota Indonesia sebesar USD 3 miliar. Karena saldo pinjaman dari IMF melampaui kuota, Indonesia dikenai program pemandoran yang dinamakan Post Program Monitoring. Yang paling akhir menjadi kontroversi adalah sikap beberapa menteri dalam Kabinet Indonesia Bersatu terhadap uluran tangan spontan dari beberapa kepala pemerintahan beberapa negara Eropa penting berkenaan dengan bencana tsunami. Baru kemarin media massa penuh dengan komentar minor mengapa tim ekonomi pemerintah utang lagi dalam jumlah besar sehingga jumlah stok utang luar negeri keseluruhannya bertambah? Ini sangat bertentangan dengan yang dikatakan selama kampanye presiden dan juga dikatakan oleh para menteri ekonomi sendiri bahwa stok utang akan dikurangi. Berdasar pengalaman, saya yakin bahwa kartel IMF yang memaksa kita berutang dalam jumlah besar supaya dapat membayar utang yang jatuh tempo. Buat mereka, yang terpenting memperoleh pendapatan bunga dan mengendalikan Indonesia dengan menggunakan utang luar negeri yang sulit dibayar kembali. Mafia Berkeley Mafia Berkeley adalah Organisasi Tanpa Bentuk (OTB). Mereka mempunyai atau menciptakan keturunan-keturunan. Para pendirinya memang sudah sepuh, yaitu Prof Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, Emil Salim, Soebroto, Moh. Sadli, J.B. Soemarlin, Adrianus Mooy, dan masih sangat banyak lagi. Yang sekarang dominan adalah Sri Mulyani, Moh. Ikhsan, Chatib Basri, dan masih banyak lagi. Mereka tersebar pada seluruh departemen dan menduduki jabatan eselon I dan II, sampai kepala biro. Ciri kelompok itu ialah masuk ke dalam kabinet tanpa peduli siapa presidennya. Mereka mendesakkan diri dengan bantuan kekuatan agresor. Kalau kita ingat, sejak akhir era Orde Lama, Emil Salim sudah anggota penting dari KOTOE dan Widjojo Nitisastro sudah sekretaris Perdana Menteri Djuanda. Widjojo akhirnya menjabat sebagai ketua Bappenas dan bermarkas di sana. Setelah itu, presiden berganti beberapa kali. Yang “kecolongan” tidak masuk ke dalam kabinet adalah ketika Gus Dur menjadi presiden. Namun, begitu mereka mengetahui, mereka tidak terima. Mereka mendesak supaya Gus Dur membentuk Dewan Ekonomi Nasional. Seperti kita ketahui, ketuanya adalah Emil Salim dan sekretarisnya Sri Mulyani. Mereka berhasil mempengaruhi atau “memaksa” Gus Dur bahwa mereka diperbolehkan hadir dalam setiap rapat koordinasi bidang ekuin. Tidak puas lagi, mereka berhasil membentuk Tim Asistensi pada Menko Ekuin yang terdiri atas dua orang saja, yaitu Widjojo Nitisastro dan Sri Mulyani. Dipaksakan bahwa mereka harus ikut mendampingi Menko Ekuin dan menteri keuangan dalam perundingan Paris Club pada 12 April 2000, walaupun mereka sama sekali di luar struktur dan sama sekali tidak dibutuhkan. Mereka membentuk opini publik bahwa ekonomi akan porak-poranda di bawah kendali tim ekonomi yang ada. Padahal, kinerja tim ekonomi di tahun 2000 tidak jelek kalau kita pelajari statistiknya sekarang. Yang mengejutkan adalah Presiden Megawati yang mengangkat Boediono sebagai menteri keuangan dan Dorodjatun sebagai Menko Perekonomian. Aliran pikir dan sikap Laksamana Sukardi sangat jelas sama dengan Berkeley Mafia, walaupun dia bukan anggotanya. Ada penjelasan tersendiri tentang hal ini. Presiden SBY sudah mengetahui semuanya. Toh tidak dapat menolak dimasukkannya ke dalam kabinet tokoh-tokoh Berkeley Mafia seperti Sri Mulyani, Jusuf Anwar, dan Mari Pangestu, seperti yang telah disinaylir oleh beberapa media massa. Peranan Menara Gading dalam Konspirasi Destruktip Setelah dr. Mahar Marjono sukses mengemban tugas Soeharto dalam “mempersingkat” hidup Bung Karno (meninggal pada usia sekitar 66 th.), maka Mahar Marjono diangkat menjadi Rektor UI. Dengan ini, maka konspirasi tiga serangkai: USA-Militer-UI mulai terjadi. Untuk menguasai SDM top Indonesia, maka dibentuklah mafia Berkeley (yang sipil, yang notabene para oknum akademisi UI) dan mafia West Point (yang militer, yang notabene para oknum petinggi TNI AD/Polisi). Sejarah dan pendidikan Indonesia mengalami kegelapan disaat Rektor UI dijabat oleh jendral TNI AD yaitu Nugroho Notosusanto. Hari lahir Pancasila diabaikan, sejarah nasional dijungkir balikan: nama2 jalan besar diseluruh kota besar di Indonesia harus memakai nama jendral AD (Yani, Tendean, dst), peran BK diminimalkan, peran militer di blow up, peran inteligensia/kecerdasan disempitkan, dan wawasan almamater (pembungkaman kampus) dilaksanakan. Para pelacur intelektual UI sungguh banyak, mereka ini telah ikut serta menenggelamkan Indonesia, sudah saatnya mereka mengalami hukuman sosial dengan membeberkan dosa-dosa terselubung mereka! Prof. Ismail Suni, Yusril, Jimmly Asidiqi, Miranda Gultom, Anwar Nasution, Nazarudin, dst., adalah termasuk para konspiran. Pada umumnya, mereka ditokohkan terlebih dahulu melalui televisi sebagai intelektual yang kritis (politik kambing putih); kemudian setelah beberapa bulan dan telah mempunyai reputasi nasional, maka mereka diselundupkan/disusupkan dan diangkat menjadi pejabat penting regim ORBA (dan bablasannya) dalam pemerintahan (eselon 1, 2, atau menteri). Konspirasi destruktip USA-Militer-UI yang berhasil menusuk Bung Karno dari belakang (kupdeta yang merangkak) menjadikan Indonesia hingga kini terjebak dalam berbagai krisis dan sulit kembali menjadi bangsa yang sehat sehat. Dalam perkembangannya, Soeharto dan regim penerusnya tidak hanya menggunakan UI, melainkan juga memanfaatkan para pelacur intelektual dari: ITB, UGM dan IPB dan berbagai kampus untuk melahirkan pelacur pelacur Intelektual . Melalui program NKK, Normalisasi Kehidupan Kampus pada zaman Daoed Joesoef, melalui program SKS , sistem kredit, pengebirian lembaga-lembaga kemahasiswaan, telah berhasil menjauhkan Mahasiswa sebagai calon pemimpin masa depan dari realitas kehidupan bangsanya. Meskipun mahsiswa-mahasiswa yang kritis, tetap melakukan kontrol dan menghadapi “kadal Ijo” julukan militer yang sangat represif, namun nasib para idealis ini harus teramputasi dengan masuk daftar black list yang tidak memungkinkan mereka berkiprah membangun bangsa melalui birokrasi, sipil, militer. Sehingga bangsa ini kehilangan birokrat, teknokrat dan militer yang idealis karena sistem screening. Saat ini, para penghuni menara gading, para oportunis suhartois justru mengendalikan birokrasi, sipil, militer dan hasilnya bisa kita lihat. Bagi aktivis HMI, yang kemudian menamakan diri menjadi HMI MPO, betapa represifnya rezim Soeharto sangat dirasakan. Bagi HMI MPO Yogya, perlakuan tidak adil oleh pilar kekuatan Soeharto nampak pada Bagaimana HMI Barat (MPO, yang bermarkas di Dagen) harus menghadapi mereka, dan diusir untuk tidak bermarkas di Dagen. Betapa kaderisasi untuk menjadikan mahasiswa-mahasiswa memiliki komitmen dan jiwa kepemimpinan yang ideal , harus bergerilya karena aparat keamanan siap membekuknya. Jangan Terjebak Ada beberapa isue yang sangat strategis yang perlu kita hadapi dengan kritis dan tidak terjebak emosi. Blow Up Calon RI 1 untuk 2014 yang dictrakan oleh kelompok tertentu, yang kedua adalah Keberanian Para Loyalis Soeharto yang tetap ada di Golkar dan yang telah berdiaspora ke berbagai partai politik yang mengusulkan “Bosnya” menjadi Pahlawan Nasional tepat di hari ke 1000 (nyewu) kematiannya sekaligus tepat 1 tahun Pemerintahan SBY. Sistem akselerasi, pemberlakuan sistem kredit semester (SKS) bagi anak-anak SMA akan semakin menjauhkan remaja-remaja bangsa Indonesia sebagai penerus kepemimpinan bangsa dari peduli pada kehidupan bangsa. SKS pada siswa SMA merupakan pengamputasian idealisme remaja sejak dini. Kita semakin sulit menemukan siswa-siswa yang punya kepemimpina ideal untuk berbangsa karena semakin langka organisasi-organisasi pelajar di luar sekolah tempat menggemleng kepemimpinannya. Sementara di sekolah mereka kian ditekan dengan belajar melalui akselerasi dan SKS. Jika mereka (Soehartois, mafia Barclay dan Pelacur 2 Intelektual) tetap menjadi antek-antek neokolonial dengan tidak peduli pada masa depan bangsa, maka sudah seharusnya semua pemuda, semua aktivis dan semua komponen bangsa perlu segera mengambil langkah yang benar, untuk kembali menjadi bangsa yang besar ! disusun dari berbagai sumber Penulis adalah mantan aktivis Kampus UGM, Jamaah Shalahuddin dan HMI MPO.

Sumber : http://doitsoteam.blogspot.com/2010/10/sebuah-catatan-menjelang-sumpah-pemuda.html

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Nasionalisme Pemuda Rendah, Masa Depan Bangsa Terancam

Masa depan bangsa Indonesia terancam suram akibat rendahnya rasa nasionalisme di kalangan pemuda. Kian tahun, momentum peringatan Sumpah Pemuda yang menjadi awal lahirnya nasionalisme dikalangan pemuda semakin diabaikan. Hanya sedikit kaum muda yang peduli , bahkan itu pun lebih bersifat ceremonial saja. Rasa kebangsaan, nasionalisme dan patriotisme telah tergusur oleh budaya hura-hura yang menyesatkan. “Pemuda seharusnya menjadi pelopor dalam membangun semangat perjuangan, tetapi justru kenyataannya kini justru jatuh ke jurang materialisme yang tak terkontrol,” kata Ketua Umum PMII, Muhammad Bukrata kepada Hminews, Kamis(29/10) Menurut Bukrata sumpah pemuda yang telah diperjuangkan oleh berbagai elemen pemuda pada Kongres Pemuda II di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Jakarta Pusat pada tanggal 28 Oktober 1928 lalu perlahan-lahan mulai punah.” Saat ini anak muda sudah tidak peduli lagi dengan nilai sumpah pemuda”,Ujarnya Bukrata juga sangat menyayangkan banyaknya pemuda Indonesia yang perlahan-lahan mulai meninggalkan kebudayaan Indonesia. “Sangat sedikit kalangan pemuda yang menaruh perhatian pada masalah bangsa, karena mereka lebih tertarik pada kehidupan hedonis”, cetusnya ” Kita bisa melihat banyak pemuda yang tidak perduli dengan kondisi keterpurukan yang melanda bangsa ini,bahkan dengan mudah kita membiarkan kebudayaan bangsa kita diambil oleh bangsa lain, kalangan pemuda semestinya sadar, masa depan negara ini tergantung pada kita, apa jadinya negara ini jika kita tak peduli, tambahnya lagi dengan nada kecewa,” Bukrata mengajak berbagai kalangan pemuda untuk lebih memaknai sumpah pemuda dengan membangkitkan kembali nasionalisme sekaligus jiwa kepeloporan pemuda yang disertai dengan nilai-nilai agama. Menurutnya bangsa kita sangat membutuhkan generasi muda yang cerdas dan setia kepada bangsa dan negara. Selain itu, dia juga berpesan kepada seluruh aktivis pemuda dan mahasiswa agar benar-benar menjalankan komitmennya untuk menjaadi generasi penerus bangsa yang akan mencurahkan seluruh jiwa raganya untuk kemajuan bangsa dan negara. Sementara itu, Ahmad Husni, aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI DIPO), menyatakan saat ini telah terjadi pergeseran nasionalisme. menurutnya pemuda Indonesia kurang memahami wawasan kebangsaan. Itu semua terjadi karena pemerintah tidak memberikan ruang gerak yang cukup kepada para pemuda. “Pemuda Indonesia masih cukup potensial untuk membangun bangsa ini, akan tetapi kita tidak diberikan kesempatan oleh pemerintah, saya berharap di moment peringatan sumpah pemuda ini, pemerintah mulai membuka kesempatan bagi generasi muda untuk melestarika kembali nilai nasionalismem,” uja Husni. (Rita)

Karakter Bangsa Adalah Cetakan Dalam Membangun Sebuah Bangsa

Jakarta, hminews.com – Setiap tempat, setiap bangsa memiliki karakternya sendiri-sendiri. Karakter itulah yang menjadi trayek kemajuannya sendiri-sendiri. Jalan kemajuan suatu bangsa itu adalah jalan karakternya. India maju dengan swadesinya, dan Cina maju dengan karakter konfusionnya. Karakter itu adalah suatu cetakan, dan itu menjadi dasar kepribadiannya. Karakter inilah yang membedakan, satu Negara dengan Negara lain.

Hal ini terungkap dalam seminar tentang Peran Kaum Profesional dalam membangun karakter bangsa yang dilaksanakan di Gedung Bank Indonesia, Selasa (08/06) malam. Hadir sebagai pembicara yaitu Direktur Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Indonesia, Yudi Latif, Mantan Gubernur Bank Indonesia, Burhanuddin Abdullah dan Dosen STF Driyakarta, Dr. Karina S. Supelli.

Menurut Yudi Latif, Jika suatu bangsa sudah kehilangan karakter, maka itu adalah kehilangan segala-galanya. Indonesia yang merupakan satu dari empat Negara terbesar di dunia. Sabang itu ada di London dan Merauke ada di Teheran, tapi kebesaran teritori itu tidak ada harganya jika karakter bangsa itu lembek, jika karakter bangsa itu pecundang.

“akibat mental investment atau character building yang tidak kita garap, maka apapun yang kita miliki seolah-olah, seperti kata Ghandi, dosa sosial yang mematikan bagi masyarakat. Politik tanpa prinsip, pendidikan tanpa karakter, kesenangan tanpa nurani, kekayaan tanpa kerja keras, semua itu seperti menusuk-nusuk jantung kita. Semua dosa sosial yang membunuh kehidupan sosial seperti bagian dari kehidupan kita sehari-hari”. Demikian komentarnya berkaitan dengan karakter bangsa Indonesia.

Yudi menambahkan, pendiri bangsa kita sebenarnya sudah menetapkan karakter bangsa kita yaitu kekeluargaan dan gotong royong. Namun saat ini kehidupan kita sudah tercerabut dari nilai-nilai kekeluargaan dan gotong royong. “oleh karena itu,  kekeluargaan sebagai cetakan dasar karakter bangsa kita, kerapuhan, kehancuran karakter kita, justru terjadi saat nilai-nilai kekeluargaan itu tercabut. Politiknya, demokrasi kita demokrasi yang menghamba pada kekuatan privat, ekonominya juga mengarah pada kekuatan privat, humanisme juga semakin dinilai oleh kekuatan-kekuatan fundamentalisme, pemuda-pemuda kita di daerah semakin mempertontonkan kanibalisme, dan lain-lain. Itulah yang membuat kita hancur seperti tidak punya karakter”. Katanya menambahkan.

Kritik yang lebih tajam disampaikan oleh Burhanuddin Abdullah. Menurutnya, bangsa Indonesia seperti bangsa yang tidak punya karakter. Dia justru mempertanyakan apa sebenarnya karakter bangsa Indonesia itu? “saya akhirnya sampai pada satu kesimpulan bahwa, bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat kuat karakternya yaitu bangsa yang tidak punya karakter”. Katanya.

Sementara itu, Karina S. Supelli mengatakan, Ketika kita bicara karakter bangsa kita tidak bisa bicara individu, tapi gugus tindakan kolektif, gugus tindakan warga Negara, itulah karakter bangsa. Karakter bangsa itu adalah cita-cita kebangsaan. Oleh karena itu, karakter bangsa tidak bisa dilepaskan dari kebijakan public (political will) pemerintah. “Kebijkan public adalah cara pemerintah untuk mengelola arus tindakan puluhan juta atau bahkan lebih dari 200 juta jiwa untuk menciptakan karakter bangsa. Yang mengatur tindakan.” Katanya.

Menurutnya, kaum profesional harus menjadi bagian dari menciptakan karakter bangsa tersebut. “kaum profesional bisa menjadi pengawal, bisa menjadi abdi birokrasi atau bisa menjadi abdi sosial dan yang paling menarik adalah menjadi peserta permainan dimana majikannya adalah aturan-aturan politik ekonomi yang berlaku”. Katanya menambahkan. (Sunardi Panjaitan)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

PEMUDA HARI INI, PEMIMPIN MASA DEPAN BANGSA

“Beri aku sepuluh pemuda, maka aku merdekakan negeri ini dari para penjajah” kata Soekarno dan “Bapa di surga, beri hambamu ini 12 Murid, maka akan aku selamatkan manusia dari derita dan kehinaan” kata Yesus Kristus.

Kalimat yang sangat luar biasa, yang dapat menginspirasi diri ini untuk laku prihatin membuat perubahan-perubahan yang sangat mendasar dalam kehidupan ini. Perlu di camkan, bahwa yang dibutuhkan untuk melakukan perubahan yang sangat mendasar didunia ini tidak memerlukan banyak orang, hanya segelintir orang yang tentunya dari golongan pemuda. Ada entry point, yang bisa didiskusikan disini yakni beberapa orang dan pemuda.

Segelintir manusia, yang tahu akan keadaan sekarang, yang memahami bahwa kondisi saat ini bila dibiarkan terus menerus akan berdampak buruk kedepanlah yang bisa melakukan perubahan yang radikal untuk tatanan masyarakat yang lebih baik. Disini diperlukan wahana untuk saling melakukan pengembangan diskursus atau wacana, karena dari diskusi awal inilah saling memahami dan mendukung gerakan akan terjadi dengan sendirinya. Segelintir orang ini perlu melakukan kajian kajian rutin yang mendasar untuk memformulasikan pola perubahan apa yang dibutuhkan dimasyarakat saat ini . Oleh karenannya, bisa kita tengok dalam sejarah perkembangan peradaban, bahwa dunia ini harus berterima kasih kepada orang-orang yang “nyleneh” yang tentunya jumlahnya sedikit, yang mana mereka mau untuk menjadi mainstream bahkan dengan menjadi martir untuk perubahan ini. Makan perlu digaris bawahi, bahwa pertemuan-pertemuan rutin yang dilakukan oleh “manusia-manusia nyleneh” harus perlu dipupuk. Agar kehidupan ini menjadi lebih dinamis dan tentunya akan membawa pada perubahan yang memang kita inginkan.

Kedua adalah pemuda, pemuda adalah harapan semesta, tentunya disini definisi pemuda tidak hanya dilihat dari sudut pandang rentang usia, namun pemuda disini adalah sosok manusia yang memiliki semangat yang luar biasa untuk melakukan upaya-upaya perubahan bagi masyarakatnya. Ciri yang sangat mudah kita temui dari sosok pemuda adalah, sikap optimismenya. Hal ini sangat berbeda dengan orang-orang tua, pemuda masih memiliki waktu untuk bisa mewujudkan cita-cita yang ada dalam benaknya. Masih ada rentang waktu untuk mewujudkan program tersebut. Hal ini sangat berbeda dengan para golongan tua yang sudah tidak memiliki kesempatan waktu dan fisik yang prima untuk mewujudkan cita-citanya, makanya kecenderungan yang ada pada golongan tua adalah bersikap pragmatis dalam menghadapi kenyataan hidup ini. Bukannya untuk berani melakukan perubahan akan tetapi lebih memilih untuk bersikap nyaman dalam memandang kehidupan ini. Akan tetapi yang perlu digaris bawahi, bahwa sebenarnya pemuda disini adalah konotasi, sebuah perumpamaan yang di lekatkan kepada semua orang, siapapun dia yang penting memiliki semangat optimis, progresif untuk melakukan perubahan, dan memberikan warna yang berbeda dalam kehidupan ini. Banggalah menjadi sosok minoritas (sedikit), yang memiliki sifat para pemuda idealis.

Pemuda dan Rehabilitasi Masa Depan Bangsa

Oleh: Kupret El Kazhiem

Sebelum kita membayangkan bagaimana indahnya masa depan para pemuda, kita harus lebih dahulu merasakan susahnya menciptakan para pemuda masa depan. Gejala, situasi dan kondisi bangsa di segala bidang kehidupan bersimbiotik secara alami dengan para pemuda dan generasi berikutnya. Ini pula yang mengakibatkan terkikisnya intelektualitas, kecerdasan emosi dan spiritualitas para pemuda dalam menyikapi krisis multidimensi dewasa ini.

Pemuda adalah aset bangsa yang sangat berharga namun justru semangat kebangsaan mereka habis terkuras untuk berbagai aktivitas politik harian yang melelahkan sebagai efek dari krisis, konflik, dan bencana, sehingga tidak punya lagi energi untuk menyusun imajinasi masa depan Negara-Bangsa. Belum lagi timbulnya gap antar generasi yang cenderung menuju pada sikap permusuhan yang radikal dan konseptual antara “yang serba sama” dengan “yang serba lain”, permusuhan yang menganggap tidak ada gunanya memikirkan hubungan antar manusia, terutama antar generasi.

Berhadapan dengan pudarnya semangat kebangsaan generasi muda dan pengaburan cita-cita proggresssiv di masa depan, maka berbagai imajinasi populer yang hidup subur di dalam berbagai media yang mempunyai daya pengaruh besar terhadap masyarakat -lewat berbagai fenomena materialisme dan hedonisasi- ikut memengaruhi imajinasi-imajinasi kebangsaan lewat bersimbiosisnya budaya politik dengan budaya massa, yang menggiring ke arah berbagai pendangkalan dan banalitas makna politik dan kebangsaan. Imajinasi-imajinasi populer itu sesungguhnya tidak produktif dalam rangka membangun sebuah imajinasi masa depan yang lebih autentik, yang terlepas (selera umum) itu sendiri.

Namun di lain sisi, agaknya tidak salah jika sebagian orang mengatakan bahwa nasionalisme pemuda kita telah berubah menjadi materialisme dan hedonisme, patriotisme telah berubah menjadi apatisme. Fenomena ini dapat kita tangkap dari keengganan sebagian pemuda kita untuk memikirkan masalah kebangsaan. Kegamangan pemuda dalam menghadapi permasalahan bangsa dapat mengurangi agresivitas pembangunan bangsa.

Sebab lain yang menjadi pemicu lunturnya semangat kebangsaan pada generasi muda saat ini, karena kejenuhan para pemuda dalam memandang wacana kebangsaan yang dikumandangkan elite politik kita. Mereka melihat tidak adanya figur teladan yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi perbaikan keadaan bangsa. Selain itu, sebab lainnya adalah tidak adanya kepercayaan dari golongan tua kepada golongan muda untuk mengadakan transfer ilmu, pengalaman dan kewenangan. Banyak kaum muda yang merasa bahwa kemampuan mereka dalam suatu bidang kurang bisa ditampilkan secara maksimal oleh karena tidak adanya kesempatan untuk menduduki posisi yang penting dalam menentukan kebijakan di negeri ini. Sebagian besar elit politik kita masih memegang paradigma lama yang kurang menghargai profesionalisme dan lebih mementingkan koneksi.

Tidak adanya solidaritas antar generasi hanya membuahkan egoisme di lingkungan generasi yang sama. Hal tersebut dapat dikatakan sebagai ancaman, bukan hanya untuk generasi mendatang tetapi juga dalam makna kebangsaan, bahkan bagi pengertian kemanusiaan itu sendiri; Kemanusiaan yang beradab. Jadi yang sebenarnya teringkari oleh retret temporal dan simbolik dewasa ini adalah justru struktur “hidup bersama” baik dalam orientasi sinkronisnya (solidaritas antar orang) maupun orientasi diakronisnya (solidaritas antar usia). Sedangkan “hidup bersama” ini, vivre ensemble -menurut Ernest Renan dan sering dikutip oleh Bung Karno, justru merupakan salah satu dasar pokok dari pembentukan Negara-Bangsa.

Adanya tirani urgensi dengan gaya dadakannya, juga membuat kriteria aksi yang simpel -fleksibilitas dan adaptasi- menjadi asas absolut dalam pengambilan keputusan. Keluwesan ini bisa saja membuahkan manfaat sesaat, terutama di latar politik, bahkan ada yang membaptiskannya sebagai “demokrasi”. Namun keluwesan ini membawa risiko yang kefatalannya baru terasa dalam jangka panjang, sesudah terlambat, dan setelah generasi mendatang terjebak dalam entropi dan immobilisme.

Berhubung pembawaan alami urgensi adalah mengabaikan pandangan perspektif dan antisipasi, gerakan dari satu adaptasi sesaat ke adaptasi sesaat lain yang terus menerus hingga membudaya, membuat setiap langkah pemecahan instan yang diambil semakin menjauhi cita-cita semula, semakin menyimpang dari tujuan kolektif awal. Sedangkan elaborasi jawaban yang relatif kekal terhadap masalah-masalah manusia, pembangunan dan lingkungan, menuntut adanya suatu pandangan berjangka temporal jauh dan diarahkan ke masa depan.

Mengingat generasi sekarang bisa belajar dari berbagai kekeliruan dan kegagalan generasi sebelumnya, sepatutnya lebih dapat terhindar dari reproduksi sejarah yang buram. Maka generasi muda seharusnya merasa terpanggil untuk melawan, berusaha keras untuk tidak terjebak dalam perangkap ganda yang berupa realisme katastropis (keingkaran) dan utopia ilusif (retret) sebagaimana disebut pada bagian awal tulisan. Dalam konteks itulah, sebuah konsolidasi gerakan kaum muda harus terus-menerus digalang dan diperkuat. Konsolidasi itu tak cukup dengan sumpah, tapi perlu kesadaran untuk menggabungkan kekuatan moral, intelektual, profesional, dan perjuangan dalam berbagai aspek kehidupan agar mampu membentuk suatu perspektif temporal baru, merintis jalan ke arah jauh ke depan. Merubah tatapan dan penalaran tentang masa depan. Pendek kata, pemudalah kandidat utama demi merehabilitasi masa depan.

Generasi muda calon pemimpin bangsa ini di kemudian hari dituntut agar mempunyai visi prospektif, pandangan atas sesuatu di masa depan bukan sebagai realitas tersembunyi yang sudah memiliki suatu eksistensi dan dapat ditemukan orang dengan menggunakan metode-metode ilmiah yang sesuai, tetapi lebih berupa hasil yang telah diprakirakan, atau diperoleh secara sengaja, sistematik, konsisten dan terarah sebelumnya. Jadi visi progressif dibangun berdasarkan postulat bahwa para pemuda terpanggil untuk membangun masa depan diri dan bangsanya agar benar-benar siap dalam menghadapi tantangan perubahan zaman yang beraneka ragam, meski tidak pasti serta serba kompleks. Sebab itu adanya keharusan untuk merenung ke depan setiap kali timbul keperluan dalam mengambil keputusan-keputusan yang signifikan. Pemuda harus kembali mengambil peran-peran monumental sehingga menjadi pijakan kokoh untuk langkah pembangunan selanjutnya.

PEMUDA DAN MASA DEPAN BANGSA

Di ruangan yang tak seberapa besar itu, puluhan pemuda duduk rapih. Mereka dengan cermat mendengarkan paparan tokoh-tokoh pergerakan dengan perasaan was-was. Sewaktu-waktu bisa saja rapat itu dibubar paksa oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Namun demikian mereka tetap yakin untuk tetap menyelesaikan rapat itu. Hasil rapat itu yang, entah kenapa, sering disebut Sumpah Pemuda.

Creative Minor

Kedudukan pemuda sebagai generasi penerus bangsa selalu terhormat di panggung sejarah. Kehadiran mereka selalu membawa tendensi-tendensi yang tidak sinkron dengan jiwa zamannya. Pemuda menjadi insan yang kreatif dan gelisah menghadapi masa yang tidak sesuai jati dirinya. Ia menjadi minoritas, tetapi tidak lantas marginal. Sebaliknya, ia menjadi aktor utama yang mampu mengubah roda peradaban.

Lihatlah perjalanan sejarah bangsa ini. Kehadiran pemuda selalu ada dan ikut mewarnai perubahan zaman. Tentu masih kita ingat diskusi Soetomo, seorang murid sekolah dokter Jawa (STOVIA) dan Wahidin Soedirohoesodo, seorang dokter Jawa yang hampir pupus harapannya untuk memajukan pendidikan dan budaya Jawa. Ketika kegelisahan dan asa bertemu maka terbentuknya Boedi Oetomo (BO) yang selalu kita peringati sebagai Hari Kebangkitan Nasional (HKN).

Dua puluh tahun kemudian, ketika Pemerintah Kolonial Belanda membatasi dan mengawasi aktivitas tokoh-tokoh dan partai-partai politik, para pemuda berani mengambil resiko untuk melaksanakan rapat yang ditabukan pada masa itu. Lebih dari itu, mereka mau menanggalkan segala atribut etnisitas demi persatuan bangsa. Dengan iringan biola dan lagu Indonesia Raya karya W.R. Soepratman, mereka berikrar berbahasa, bertanah air, dan berbangsa satu.

Kaum muda lagi-lagi beraksi. Mereka dengan gigih, di bawah pengawasan militer ketat Jepang, mendorong para tokoh-tokoh golongan tua nasional untuk segera memroklamasikan kemerdekaan. Begitu antusiasnya, para pemuda itu sempat menyandera para seniornya untuk segera menyatakan kemerdekaan Indonesia. Betul saja tekanan kaum muda itu menjadi indikator bagi Soekarno-Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan bangsa ini.

Setelah Indonesia merdeka, sikap kaum muda pun tidak luntur. Ketika kejenuhan zaman sudah memuncak, kaum muda datang untuk mendesak perubahan. Itulah yang terjadi ketika kekacauan telah mencapai titik kulminasi. Kediktatoran Soekarno sudah tidak dapat lagi dimaklumi oleh para pemuda. Sikap Soekarno yang memusuhi KAMI dan menutup Kampus Universitas Indonesia tidak memadamkan asa, tetapi melecutkan semangat pemuda untuk mengulingkan Demokrasi Terpimpinnya Soekarno. Walaupun kekuatan kaum muda ini ditungangi pihak-pihak yang berkepentingan secara politik, namun lagi-lagi pemuda mampu menjadi agen perubahan zaman.

Rezim Orde Baru yang mengedepankan stabititas di segala bidang terbukti tak berdaya melawan kekuatan kaum muda. Saat krisis multidimensioanal mengoyang Orde Baru, pemuda kekuatan yang mampu membuat Soeharto menyerah meletakkan jabatan yang telah diemban selama 32 tahun. Pemuda bersorak, namun terpukul. Pemerintahan reformis yang mereka idam-idamkan sampai sekarang tak kunjung muncul. Justru yang tampil kepermukaan adalah kamuflase dan metamorfosis Orde Baru.

Budak Peradaban

Keikutsertaan pemuda sebagai salah satu agen penting perubahan pada masa-masa krisis yang menandai akhir periode sejarah memang tak dapat dipungkiri. Namun demikian, sampai sejauh mana peran pemuda di zaman normal? Apakah suara lantang kaum muda menjadi sumbang dan sekedar angin lalu. Atau malah kehilangan suara kegelisahan dan gairah perjuangannya.

Saya cenderung untuk menyetujui alternatif yang terakhir. Dengan kata lain, pemuda tidak lagi menjadi aktor yang memainkan plot-plot sejarah. Pemuda hanya menjadi penonton yang sesekali hanya bersorak ketika para aktor melakukan kesalahan, tanpa memberikan solusi yang adaptif. Mengapa hal itu terjadi?

Seorang penulis berkata, “para pemuda kehilangan musuh bersamanya”. Oleh karena itu, mereka tidak lagi menjadi agen-agen perubahan, tetapi budak-budak yang terjebak pada buaian budaya populer. Mereka bermetamorfosis menjadi manusia-manusia yang patuh pada perintah tuan-tuannya. Kreativitas mereka menjadi tumpul, kegelisahan mereka dilesapkan, dan gairah mereka dibelokkan pada materialisme hampa.

Generasi muda adalah penerus bangsa. Bila kaum mudanya bobrok, pastilah bangsanya korup. Oleh karena itu pemuda harus bersatu memeperjuang kreativitas, kegelisahan, dan gairah dalam sebuah media yang tepat sehingga gagasan-gagasan itu tidak didasarkan pada pemikiran-pemikiran dangkal dan instan, tetapi terencana dan berproses. Dengan begitu, pemuda dapat memainkan peranannya di setiap langkah sejarah bangsa ini dalam rangka menentukan masa depan bangsa ini. Jangan sampai, kekuatan kaum muda hanya dijadikan batu loncatan bagi pihak-pihak yang berkepentingan.
sUMBER : http://kupretist.multiply.com;http://widaryanti.blogspot.com;http://teguhmanurung.wordpress.com

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Orang-orang Yang Didoakan Oleh Para Malaikat

Inilah orang – orang yang didoakan oleh para malaikat :

1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.
Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci”.
(Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia’”
(Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Muslim no. 469)

3. Orang – orang yang berada di shaf barisan depan di dalam shalat berjamaah.
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang – orang) yang berada pada shaf – shaf terdepan”
(Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra’ bin ‘Azib ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

4. Orang – orang yang menyambung shaf pada sholat berjamaah
(tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam shaf).
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang – orang yang menyambung shaf – shaf”
(Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)

5. Para malaikat mengucapkan ‘Amin’ ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah.
Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang Imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalinn’, maka ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu”
(Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 782)

6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat.
Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia”
(Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

7. Orang – orang yang melakukan shalat shubuh dan ‘ashar secara berjama’ah.
Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ‘ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ‘ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku?’, mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat”
(Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.
Rasulullah SAW bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan’”
(Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda’ ra., Shahih Muslim no. 2733)

9. Orang – orang yang berinfak.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’. Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit’”
(Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)

10. Orang yang sedang makan sahur.
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang – orang yang sedang makan sahur”
(Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)

11. Orang yang sedang menjenguk orang sakit.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh”
(Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib ra., Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, “Sanadnya shahih”)

12. Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.
Rasulullah SAW bersabda, “Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain”
(Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)

Sumber Tulisan Oleh : Syaikh Dr. Fadhl Ilahi (Orang – orang yang Didoakan Malaikat, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Februari 2005

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pemimpin, Keberanian, dan Perubahan

Pemimpin, Keberanian, dan Perubahan
Oleh: Adjie Suradji

Terdapat dua jenis pemimpin cerdas, yaitu pemimpin cerdas saja dan pemimpin cerdas yang bisa membawa perubahan.

Untuk menciptakan perubahan (dalam arti positif), tidak diperlukan pemimpin sangat cerdas sebab kadang kala kecerdasan justru dapat menghambat keberanian. Keberanian jadi satu faktor penting dalam kepemimpinan berkarakter, termasuk keberanian mengambil keputusan dan menghadapi risiko. Kepemimpinan berkarakter risk taker bertentangan dengan ciri-ciri kepemimpinan populis. Pemimpin populis tidak berani mengambil risiko, bekerja menggunakan uang, kekuasaan, dan politik populis atau pencitraan lain.

Indonesia sudah memiliki lima mantan presiden dan tiap presiden menghasilkan perubahannya sendiri-sendiri. Soekarno membawa perubahan besar bagi bangsa ini. Disusul Soeharto, Habibie, Gus Dur, dan Megawati.

Soekarno barangkali telah dilupakan orang, tetapi tidak dengan sebutan Proklamator. Soeharto dengan Bapak Pembangunan dan perbaikan kehidupan sosial ekonomi rakyat. Habibie dengan teknologinya. Gus Dur dengan pluralisme dan egaliterismenya. Megawati sebagai peletak dasar demokrasi, ratu demokrasi, karena dari lima mantan RI-1, ia yang mengakhiri masa jabatan tanpa kekisruhan. Yang lain, betapapun besar jasanya bagi bangsa dan negara, ada saja yang membuat mereka lengser secara tidak elegan.

Sayang, hingga presiden keenam (SBY), ada hal buruk yang tampaknya belum berubah, yaitu perilaku korup para elite negeri ini. Akankah korupsi jadi warisan abadi? Saatnya SBY menjawab. Slogan yang diusung dalam kampanye politik, isu ”Bersama Kita Bisa” (2004) dan ”Lanjutkan” (2009), seharusnya bisa diimplementasikan secara proporsional.

Artinya, apabila pemerintahan SBY berniat memberantas korupsi, seharusnya fiat justitia pereat mundus—hendaklah hukum ditegakkan—walaupun dunia harus binasa (Ferdinand I, 1503-1564). Bukan cukup memperkuat hukum (KPK, MK, Pengadilan Tipikor, KY, hingga Satgas Pemberantasan Mafia), korupsi pun hilang. Tepatnya, seolah-olah hilang. Realitasnya, hukum dengan segala perkuatannya di negara yang disebut Indonesia ini hanya mampu membuat berbagai ketentuan hukum, tetapi tak mampu menegakkan.

Quid leges sine moribus (Roma)—apa artinya hukum jika tak disertai moralitas? Apa artinya hukum dengan sedemikian banyak perkuatannya jika moral pejabatnya rendah, berakhlak buruk, dan bermental pencuri, pembohong, dan pemalas?

Keberanian

Meminjam teori Bill Newman tentang elemen penting kepemimpinan, yang membedakan seorang pemimpin sejati dengan seorang manajer biasa adalah keberanian (The 10 Law of Leadership). Keberanian harus didasarkan pada pandangan yang diyakini benar tanpa keraguan dan bersedia menerima risiko apa pun. Seorang pemimpin tanpa keberanian bukan pemimpin sejati. Keberanian dapat timbul dari komitmen visi dan bersandar penuh pada keyakinan atas kebenaran yang diperjuangkan.

Keberanian muncul dari kepribadian kuat, sementara keraguan datang dari kepribadian yang goyah. Kalau keberanian lebih mempertimbangkan aspek kepentingan keselamatan di luar diri pemimpin—kepentingan rakyat—keraguan lebih mementingkan aspek keselamatan diri pemimpin itu sendiri.

Korelasinya dengan keberanian memberantas korupsi, SBY yang dipilih lebih dari 60 persen rakyat kenyataannya masih memimpin seperti sebagaimana para pemimpin yang dulu pernah memimpinnya.

Memang, secara alamiah, individu atau organisasi umumnya akan bersikap konservatif atau tak ingin berubah ketika sedang berada di posisi puncak dan situasi menyenangkan. Namun, dalam konteks korupsi yang kian menggurita, tersisa pertanyaan, apakah SBY hingga 2014 mampu membawa negeri ini betul-betul terbebas dari korupsi?

Pertanyaan lebih substansial: apakah SBY tetap pada komitmen perubahan? Atau justru ide perubahan yang dicanangkan (2004) hanya tinggal slogan kampanye karena ketidaksiapan menerima risiko-risiko perubahan? Terakhir, apakah SBY dapat dipandang sebagai pemimpin yang memiliki tipe kepemimpinan konsisten dalam pengertian teguh dengan karakter dirinya, berani mengambil keputusan berisiko, atau justru menjalankan kepemimpinan populis dengan segala pencitraannya?

Indonesia perlu pemimpin visioner. Pemimpin dengan impian besar, berani membayar harga, dan efektif, dengan birokrasi yang lentur. Tidak ada pemimpin tanpa visi dan tidak ada visi tanpa kesadaran akan perubahan. Perubahan adalah hal tak terelakkan. Sebab, setiap individu, organisasi, dan bangsa yang tumbuh akan selalu ditandai oleh perubahan- perubahan signifikan. Di dunia ini telah lahir beberapa pemimpin negara yang berkarakter dan membawa perubahan bagi negerinya, berani mengambil keputusan berisiko demi menyejahterakan rakyatnya. Mereka adalah Presiden Evo Morales (Bolivia), Ahmadinejad (Iran), dan Hugo Chavez (Venezuela).

Indonesia harus bisa lebih baik. Oleh karena itu, semoga di sisa waktu kepemimpinannya—dengan jargon reformasi gelombang kedua—SBY bisa memberikan iluminasi (pencerahan), artinya pencanangan pemberantasan korupsi bukan sekadar retorika politik untuk menjaga komitmen dalam membangun citranya. Kita berharap, kasus BLBI, Lapindo, Bank Century, dan perilaku penyelenggara negara yang suka mencuri, berbohong, dan malas tidak akan menjadi warisan abadi negeri ini. Sekali lagi, seluruh rakyat Indonesia tetap berharap agar Presiden SBY bisa membawa perubahan signifikan bagi negeri ini.

Adjie Suradji, Anggota TNI AU

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Bagaimana mempersiapkan masa depan dengan baik

Hal ini bisa Anda percayakan kepada kami sebagai perusahaan asuransi syariah pertama di tanah air. Kami berdiri atas prakarsa dari MUI (Majelis ulama Indonesia). Beberapa penghargaan sebagai yang terbaik juga sering kami peroleh, selengkapnya bisa dibaca di http://muslimbelanja.blogspot.com. Hubungi saya di Kontak Kami.
Arief, 031-60670647.

Saya berusaha mencoba memberikan pemahaman tentang asuransi khususnya asuransi syariah sebagai yang terbaik, aman, adil dan lebih menguntungkan. Persiapkan masa depan Anda dan keluarga sejak dini.
Beramal sekaligus mempersiapkan masa depan keluarga Anda.

Apa saja yang membedakan antara produk syariah dengan konvensional?
Dalam produk syariah semua hal harus benar-benar sesuai syariat islam.
Akad/ niat adalah salah satu rukun dan merupakan rukun yang pertama kali harus ada. Sehingga sebagai moslem patut disyukuri dalam islam selalu ada akad/ niat dalam peribadatan, karena ini sangat penting untuk mewujudkan suatu tujuan dari peribadatan itu sendiri.

Begitu juga dalam hal asuransi.
Akad pada asuransi syariah adalah tolong menolong.
Sedangkan di konvensional walaupun kita menganggapnya sebagai akad jual beli tetapi sebenarnya produk konvensional tidak pernah merasa penting dengan akad tersebut. Oleh karenanya mereka tidak sepenuhnya berupaya untuk bermuamalah dengan baik.

Apa yang dimaksud dengan akad asuransi syariah = tolong menolong?
Karena semua produk asuransi syariah memberikan manfaat asuransinya dari dana tabarru’. Selalu ada dana tabarru’ untuk setiap produk asuransi syariah yang bertujuan untuk menolong jika ada peserta asuransi yang tertimpa musibah.

Asuransi syariah tidak memakai akad jual beli karena syarat transaksi jual beli dalam islam adalah semua hal harus jelas, antara lain barang yang dijual, penjual, pembeli, sistem, dsbnya harus jelas. Sedangkan dalam asuransi masih ada ketidak jelasan, yaitu usia/ umur seseorang kapan akan meninggal dunia. Siapapun bisa meninggal dunia kapan saja, tidak harus menunggu usia tua. Ada yang meninggal di usia muda, kecelakaan diri, dsb. Untuk itu segera persiapkan diri Anda dan keluarga dengan asuransi syariah.

Apa yang dimaksud dengan tabarru’?
Tabarru’ adalah premi yang diikhlaskan untuk saling tolong menolong jika ada peserta yang tertimpa musibah, apapun musibahnya. Misal : meninggal dunia, kecelakaan diri, cacat, dsb.

Tabarru’ dari artinya sudah dapat kita gambarkan bahwa nilainya tentu sangat KECIL karena sifatnya IKHLAS. Nilai tabarru’ ini yang sebenarnya kita bayar untuk mendapat klaim asuransi yang begitu besar jika suatu saat kita memang ditakdirkan tertimpa musibah tersebut.
Jadi tabarru yang kita bayarkan tidak akan pernah hangus atau terbuang percuma karena akan terkumpul menjadi satu dengan tabarru’ dari semua peserta dan tentunya akan sangat bermanfaat untuk tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan. Anda telah beramal jariyah. Perusahaan tidak pernah memakai dana tabarru’ untuk kepentingan perusahaan, bahkan perusahaan hanya memegang AMANAH untuk mengelolanya saja demi mewujudkan KESEJAHTERAAN semua peserta. Perusahaan biasanya hanya mengenakan biaya pengelolaan yang sangat RINGAN sekali diawal/ saat pendaftaran.

Sedangkan dalam asuransi yang lain (konvensional) secara tidak kita sadari maka kita sedang melakukan PERJUDIAN dengan nasib, mengapa?
Karena premi ini masuk ke rekening perusahaan dan akan HANGUS jika kita tidak pernah klaim asuransi. Jadi sistemnya hanya melibatkan perusahaan dan peserta itu sendiri. Biaya pengelolaan biasanya sangat tinggi, ada penalty, denda, dsb. terkadang klaim juga sangat sulit dicairkan.

Karena pada asuransi konvensional semua dana masuk rekening perusahan. Jadi perusahaan memiliki hak sepenuhnya atas dana tersebut.
Sedangkan di asuransi syariah dana untuk manfaat asuransi sudah dialokasikan sejak awal melalui dana tabarru’, yang terpisah dari rekening perusahaan. Dan sistem kami juga bisa melakukan perhitungan untuk zakat maal.

Beberapa produk kami:
– Asuransi Pendidikan Anak Syariah (Fulnadi)
– Investasi Syariah (Alia), history NAB mencapai 24% dlm 4 bulan.
– Kartu ATM Syariah (tabungan + asuransi), bisa semua ATM BCA dan ATM Bersama, tanpa dikenai biaya admin bulanan jika saldo Anda min Rp. 100 ribu, bahkan saldo akan bertambah terus.
– Asuransi kesehatan, mobil, kebakaran, dsb.

Posted in Uncategorized | Leave a comment