Atas Nama Cinta Membangun Rumah Tangga

Atas Nama Cinta Membangun Rumah Tangga

  • Biasanya ketika bicara masalah membangun rumah tangga maka yang muncul adalah masalah hak dan kewajiban suami isteri
  • Lalu berlaku menuntut hak dan menunaikan kewajiban
  • Setiap ada permasalahan, maka kita akan kembalikan pada definisi mengenai hak dan kewajiban tersebut.
  • Mari kiat lihat kisah berikut peristiwa seorang anak nakal, maka bisa jadi suami akan mengatakan kepada isterinya, “Ini kan kewajiban kamu untuk mendidiknya. Kamu tidak bisa melakukannya dengan baik sehingga anak kita nakal.” Sang isteri bisa jadi akan membela diri dengan mengatakan, “Tetapi karena engkau tidak cukup memberikan uang, terpaksa anak kita tidak belajar di sekolah unggulan. Terpaksa aku menyekolahkannya di sekolah yang murah dan tidak bermutu, dampaknya anak kita nakal serta bodoh”.
  • Kisah kedua : ketika rumah tampak tidak teratur dan berantakan, seorang suami bisa mengatakan, “Rumah kita berantakan. Engkau tidak menatanya dengan baik. Bukankah ini kewajibanmu?” Sedangkan isteri bisa menjawabnya dengan ungkapan, “Engkau tidak bisa berlaku sebagai pemimpin yang baik. Waktumu habis di luar rumah, sementara engkau juga tidak memberikan kepadaku pembantu rumah tangga”.
  • Apabila seluruh masalah senantiasa dikembalikan kepada pembahasan tentang hak dan kewajiban, sesungguhnya tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah itu sendiri.
  • Perhatikan kekakuan dalam dialog berikut ini. Ana menuntut suaminya, Ahmad, untuk berlaku romantis. “Tunjukkan bukti cintamu padaku. Selama ini kau tak pernah merayuku. Selama ini kau tak pernah menyatakan rasa cintamu padaku”, kata Ana. “Bukankah aku sudah bekerja mencari nafkah, aku sudah memenuhi semua kebutuhan keluarga kita. Bukankah itu sudah menjadi bukti yang paling kongkrit bahwa aku mencintaimu. Lebih dari itu aku tidak pernah menyeleweng”, jawab Ahmad. “Itu tak cukup bagiku. Semestinya suami harus pandai merayu dan mengungkapkan kata-kata mesra kepada isterinya. Kau tak pernah melakukannya”, keluh Ana. “Apakah ada kewajiban bagi suami untuk merayu isterinya? Mana dalil yang menyatakan bahwa suami harus merayu isteri?” Ahmad tak kalah ketus menjawab.
  • Pada kesempatan yang lain, Ana merasa kelelahan melakukan semua pekerjaan rumah tangganya. Hingga akhirnya ia tidak mencuci pakaian dan menyeterika hari itu. Besok paginya, saat Ahmad akan berangkat bekerja, ia mendapatkan bajunya belum rapi. “Kenapa engkau tidak menyeterika bajuku? Aku akan bekerja dengan pakaian apa hari ini, sedang baju yang kupakai kemarin juga belum kau cuci”, keluh Ahmad. “Aku sangat lelah kemarin, tak sempat menyeterika baju-baju kita. Tidak kah engkau bisa menyeterika sendiri pagi ini? Lihatlah, aku sangat sibuk dengan anak bayi kita ini”, jawab Ana. “Tetapi bukankah menyeterika baju ini kewajibanmu? Mengapa tak kau utamakan?” tanya Ahmad. “Kewajibanku? Apakah ada kewajiban isteri untuk mencuci dan menyeterika baju suaminya? Mana dalil yang menyatakan bahwa isteri wajib menyeterika baju suami?” ungkap Ana dengan ketus.
  • Coba anda bayangkan ????????? suasana rumah tangga apabila hanya mengandalkan pembahasan tentang hak dan kewajiban? Kaku, kering, formalistik dan mekanistik. Tidak ada suasana keindahan dan kelembutan.
  • Ada lagi kerangka kultural, biasa terjadi dalam keluarga yang proses pernikahannya terjadi secara tradisional
  • Akan tetapi akan menjadi masalah manakala corak kultural ini dibingkai dalam sebuah konstruksi “agama” yang digunakan sebagai landasan kekuatan untuk memaksakan kehendak. Misalnya seorang suami melarang isterinya aktif dalam partai politik, karena “biasanya” yang aktif di parpol adalah laki-laki, sembari menjastifikasi dengan dalil agama, bahwa hendaknya wanita di dalam rumah saja.
  • Atau suami tidak mau mengerjakan kegiatan kerumahtanggaan seperti memasak, mencucui dan membersihkan rumah karena “biasanya” yang melakukan adalah para isteri, sembari melegitimasi ungkapan itu dengan dalil agama, bahwa wanita bertanggung jawab atas urusan di dalam rumah. Apabila para isteri menerima pembagian peran seperti ini atas dasar keikhlasan tanpa keterpaksaan, tentulah akan berjalan dengan lancar dan tidak akan menimbulkan masalah.
  • Untuk itulah, hendaknya rumah tangga Islam harus mengedepankan suasana kehangatan, keterbukaan, kekompakan, dan kebersamaan di dalamnya.
  • Kerangka cinta, itulah yang diperlukan dalam setiap rumah tangga.  Dengan cinta, seorang suami bisa menunaikan kewajibannya dengan penuh semangat dan pengorbanan.  Dengan cinta seorang suami akan optimal bekerja mencari nafkah, memberikan waktu, tenaga, harta dan perhatian utamanya untuk mengelola keluarga.
  • Dengan cinta seorang isteri bersedia melakukan pekerjaan kerumahtanggaan dengan ringan dan tanpa rasa keterpaksaan. Ia didik anak-anak dengan sepenuh cinta, ia siapkan keperluan suami dengan penuh cinta. Ia mengatur rumah tangga, menata taman, menata ruangan-ruangan dalam rumah, memberikan hiasan, semua dikerjakan dengan cinta. Mereka berinteraksi satu sama lain dengan bahasa cinta.
  • Rumah tangga cinta, itulah sebutan bagi mereka. Suasana yang menyelimuti mereka setiap harinya adalah cinta.
  • Isteri yang tersenyum ceria mengantar kepergian dan menyambut kedatangan suami, bukanlah karena kewajiban, tetapi karena cinta.
  • Seorang suami yang membelai rambut isterinya, mengucapkan kata-kata pujian dan ungkapan kebahagiaan, bukan karena kewajiban, tetapi karena cinta.
  • Isteri yang membantu suami menyiapkan keperluannya, merapikan jas dan dasi suami, menyiapkan tas kerja suami., bukanlah karena kewajiban, tetapi cinta.
  • Anak-anak yang demikian taat dan patuh kepada orang tua, membahagiakan kedua orang tua, bukan dengan bahasa kewajiban tetapi dengan penuh kecintaan.
  • Ayah yang memperhatikan pendidikan anak, membimbing mereka untuk mentaati Allah, mengajari mereka prinsip-prinsip aqidah dan ibadah, membentuknya berakhlaq karimah, semua dengan landasan cinta.
  • Suami yang menegur isterinya karena ada perbuatan yang tidak pantas dilakukan sebagai muslimah, teguran dilakukan bukan karena tengah mengerjakan kewajiban, tetapi tengah mengekspesikan cinta.
  • Isteri yang menyimpan cemburu kepada suami, karena khawatir melakukan penyimpangan dengan wanita lain, lalu ia memberikan peringatan agar suami berhati-hati, adalah ekspresi cinta dari isteri.
  • Rumah tangga dipenuhi cinta, ekspresinya ada pada semua titik interaksi mereka.

 

Cinta ?

  • Cinta tidaklah berdiri sendiri, ia memerlukan sejumlah kerangka dan penyangga, atau juga landasan untuk tempatnya tumbuh dan berkembang.
  • Cinta bukanlah sesuatu yang netral, ia memiliki nilai. Cinta tidak pernah bebas nilai, Islam tidak mengenal cinta untuk cinta
  • Akan tetapi Islam mengenal cinta karena Allah, cinta untuk Allah, cinta demi Allah.

 

4 (empat) kerangka penting yang hendaknya bisa menjadi basis kokoh bagi setiap rumah tangga Islam dalam mengarungi kehidupan cinta mereka.

 

  1. 1. Cinta harus Muncul dari Ketundukan kepada Syari’at Allah
  • Allah SWT menetapkan seperangkat aturan hanyalah untuk kebaikan hidup manusia.
  • Di antaranya mengatur tentang aturan-aturan kerumahtanggaan.
  • Allah menurunkan syari’at Islam secara sempurna dan menyeluruh, sehingga tidak ada satu persoalan pun yang menyangkut kehidupan yang tidak diatur oleh Islam. Allah Ta’ala berfirman : “Dan Kami turunkan kepadamu Kitab sebagai penjelas segala sesuatu”   (An Nahl : 89).
  • Adanya aturan ini tidaklah untuk sekedar diketahui atau dipahami, akan tetapi harus diaplikasikan dalam kehidupan. Dari Abu Hurairah Abdurrahman bin Shahr radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Apa yang aku larang dari kalian hendaknya kalian jauhi, dan apa yang aku perintahkan untuk kalian maka kerjakanlah sesuai dengan kemampuan kalian” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
  • Ketundukan kepada wilayah syari’at ini menjadi ciri pertama dan utama rumah tangga Islami dibandingkan dengan rumah tangga yang lainnya.
  • Demikian juga dalam mengarungi kehidupan dalam rumah tangga, segala corak kehidupan mereka senantiasa diselaraskan dengan ketentuan-ketentuan yang ada dalam Islam. Semenjak bagaimana pembagian peran antara suami dengan isteri, cara berkomunikasi, sampai hal-hal renik kerumahtanggaan seperti hubungan suami isteri, makanan, hiburan, hiasan, penataan rumah, dan lain sebagainya, harus diselaraskan dengan syari’at Allah.
  • Syari’at inilah yang akan bisa memberikan arah serta tujuan yang jelas bagi perjalanan kehiduan rumah tangga.
  • Syari’at ini pula yang akan sanggup menyelesaikan permasalahan-permasalahan kehidupan rumah tangga, dengan mengembalikan kepada kaidah-kaidah yang kokoh serta telah teruji.
  • Allah Ta’ala telah memberikan ketetapan yang amat kokoh, tentang sifat cinta, kasih dan sayang di antara suami isteri :        “Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan di antaramu rasa kasih dan sayang” (Ar Rum : 21).
  • Ikatan cinta karena Allah diantara suami istri, menjadi modal penting dalam menegakkan rumah tangga da’wah.
  • Sepenggal episode kisah kasih keluarga Rasul,  menjadi teladan  tentang menempatkan cinta antara suami istri.
  • Kisah para istri Rasul ketika mendengar kemenangan dan banyaknya harta rampasan yang diperoleh umat islam. Hingga terbetiklah keinginan dalam diri mereka untuk sedikit mereguk kenikmatan duniawi dengan kenaikan anggaran belanja. Namun apa yang dilakukan oleh Rasul saw dengan tuntutan para istri ? Setelah berdiam diri sekian lama, datanglah keputusan dari Allah untuk para istri itu agar memilih antara Allah dan Rasul, atau harta benda dunia. “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: Jika kamu sekalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan RasulNya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan pahala yang besar bagi siapa saja yang berbuat baik di antara kamu” (Al Ahzab : 28 – 29).
  • Apakah Rasul tidak mencintai para istrinya termasuk ‘Aisyah ?
  • Apakah tidak senang menggembirakan para istrinya dengan kecukupan harta ?
  • Beliau lebih mendahulukan hak-hak umat daripada keluarganya atau sekedar membuktikan cinta pada para istri dalam bentuk kecukupan harta.
  • Dalam aplikasi kehidupan keseharian, apabila tindakan suami dan isteri di rumah tangga berdasarkan dorongan cinta, akan menyebabkan kekokohan dan kemesraan hubungan di antara anggotanya.

 

  1. 2. Cinta Menghajatkan Keadilan
  • Keluarga tidaklah cukup bermodalkan cinta. Pada kenyataannya cinta bisa terkikis habis oleh adanya kesewenangan, kezhaliman atau ketidakadilan.
  • Islam sangat menjunjung tinggi prinsip keadilan, dan memusuhi segala bentuk kezhaliman, baik di bidang politik, pemerintahan, sosial, ekonomi, maupun keluarga.
  • Islam menghendaki rumah tangga tegak di atas prinsip keadilan. Perhatikan penggunaan kata al qiwamah (kepemimpinan) yang muncul sebanyak 3 kali dalam Al Qur’an, yaitu :
  • Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita” (An Nisa’: 34)
  • Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah… ” (An Nisa’: 135).
  • Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan keadilan karena Allah” (Al Maidah : 8).
  • Dengan demikian kepemimpinan mengharuskan sikap adil terhadap yang dipimpin. Suami harus mampu menegakkan keadilan dalam menata dan membagi peran dalam rumah tangga.
  • Cinta harus dijaga dengan keadilan. Apabila keadilan telah hilang, maka cintapun akan sirna. Suami yang semula mencintai dan dicintai isterinya, tatkala melakukan kesewenang-wenangan, akan menghancurkan bangunan cinta yang telah dibangunnya. Isteri yang berlaku zhalim terhadap suami, akan merusakkan nilai cinta yang telah dijaga dan dirawat selama hidup berumah tangga. Pengkhianatan, penyelewengan, tindak kekerasan baik yang mengenai fisik maupun mental, adalah contoh ketidakadilan yang akan menghilangkan cinta dan kasih sayang.

 

  1. 3. Cinta Mengharuskan Keterbukaan dan Musyawarah
  • Agar bisa berlaku adil dalam memimpin, sehingga kepemimpinannya layak ditaati, diperlukan prinsip syura.
  • Dalam keluarga, Islam menuntunkan umatnya untuk membina kehidupan di atas prinsip syura.
  • Yusuf Qardhawi : “Nash-nash syari’at menolak adanya paksaan seorang ayah untuk menikahkan putrinya tanpa meminta pendapatnya, walaupun putri itu masih gadis. Sebaliknya Islam mewajibkan agar anak gadis itu dimintai izin, meskipun ia merasa malu, maka keizinannya adalah diamnya”.
  • Rasul saw memerintahkan kepada wali pihak wanita (yaitu ayah) untuk bermusyawarah dengan ibu wanita tersebut dalam urusan pernikahannya.
  • Suami dituntunkan melakukan musyawarah dengan isteri untuk menikahkan anak gadisnya, sebagaimana hadits, “Bermusyawarahlah dengan kaum wanita (isteri-isteri kalian) dalam urusan anak-anaknya” (Riwayat Imam Ahmad).
  • Al Qur’an menyebutkan pentingnya syura dan saling ridha antara suami dan isteri dalam kaitan dengan menyusui anak dan menyapih, meski setelah cerai di antara keduanya sekalipun: “Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya” (Al Baqarah: 233).
  • Hendaknya suami membiasakan meminta pendapat dari isteri dan anak-anak dalam suatu musyawarah yang penuh keterbukaan. Bagaimana sebaiknya menata taman dan ruangan-ruangan, apa warna cat rumah kesukaan mereka, apa koran dan majalah yang akan dibaca dan dijadikan langganan, apa acara televisi yang layak disaksikan anggota keluarga.
  • Musyawarah bisa terjadi dalam suasana yang formal, seperti rapat keluarga, atau dalam suasana santai saat mengobrol di rumah bersama semua anggota keluarga.
  • Nabi Ibrahim as tatkala mendapatkan perintah dari Allah untuk menyembelih putranya, ia mengungkapkan hal itu dalam bentuk kalimat istisyarah, meminta pendapat atau pertimbangan. Beliau bertanya kepada Ismail, “Sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku bahwa aku menyembelihmu, maka bagaimanakah pendapatmu?” Ibrahim tidak mengatakan, “Sesungguhnya aku diperintah Allah untuk menyembelihmu, maka bersiaplah segera”. Luar biasa pembiasaan Nabi Ibrahim dalam bermusyawarah dengan keluarganya.
  • Apabila rumah tangga tidak dibangun di atas keterbukaan dalam berhubungan satu dengan yang lain, permasalahan akan cenderung menumpuk dan pada akhirnya sulit untuk diselesaikan.

 

  1. 4. Cinta Memerlukan Kepercayaan dan Kesetiaan
  • Saling percaya dan setia adalah pengunci cinta, tanpa kepercayaan dan kesetiaan, cinta akan kehilangan makna.
  • Suami dan isteri yang telah terikat oleh janji setia saat akad nikah, mereka terikat oleh sebuah perjanjian yang sakral (mitsaqan ghalizha) untuk saling mempercayai dan tidak mengkhianati satu sama lain.
  • Untuk bisa mendapatkan kesetiaan dari pasangan, masing-masing harus memulai dari dirinya sendiri. Suami harus memberikan keteladanan dengan memulai dari dirinya sendiri. Rasulullah saw bersabda : “Jagalah kehormatan dirimu, niscaya isterimu akan menjaga kehormatan dirinya” (Riwayat Thabrani).
  • Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan wanita yang berzina atau wanita musyrik, dan wanita yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik” (An Nur: 3).
  • Ketika mengomentari ayat di atas Al Maraghi menulis dalam tafsirnya, “Sesungguhnya lelaki yang fasiq lagi suka berbuat jahat, karena itu ia suka berzina dan melakukan perbuatan dosa, maka tidak akan suka menikah dengan wanita-wanita shalihah. Ia menyukai menikah dengan wanita fasiq lagi jahat atau wanita musyrik yang sama dengannya. Demikian pula wanita-wanita fasiq tidak akan menyukai menikah dengan laki-laki yang shalih. Mereka memilih menikah dengan lelaki  fasiq yang sama dengan dirinya. Hal ini sesuai dengan pepatah masyarakat Arab: burung-burung akan nyaman dengan sejenisnya”.

Renungan dan Evaluasi

  • Apakah rumah tangga anda termasuk rumah tangga atas nama cinta?
  • Sudah berapa lamakah anda membangun rumah tangga, dan apa capaian yang sudah anda dapatkana selama ini?
  • Cobalah renungkan, dan kemudian jawab pertanyaan berikut:
  • Pertama, apakah anda memahami syari’at berumah tangga? Apakah anda sudah mengerti aturan Islam dalam kehidupan rumah tangga? Apakah anda merasa sudah mengaplikasikan syari’at Islam dalam rumah tangga? Apakah masih ada syari’at yang belum teraplikasikan dalam rumah tangga anda? Apakah masih ada syari’at yang dilanggar dalam rumah tangga anda? Siapa saja anggota rumah tangga anda yang melakukan pelanggaran syari’at? Siapa saja anggota rumah tangga anda yang tidak mau mentaati ketentuan syari’at?
  • Kedua, apakah anda memahami prinsip keadilan dalam rumah tangga? Apakah anda merasa telah mengaplikasikan prinsip keadilan dalam rumah tangga anda? Apakah anda telah membagi peran dalam rumah tangga secara adil? Apakah anda mengalami kendala dalam mengaplikasikan prinsip keadilan dalam rumah tangga?
  • Ketiga, apakah telah ada suasana keterbukaan dalam rumah tangga anda? Apa indikasi bahwa anggota rumah tangga anda telah memiliki sikap yang saling terbuka? Apakah telah ada tradisi musyawarah dalam kehidupan rumah tangga anda? Hal-hal apa saja yang senantiasa anda musyawarahkan? Dengan siapa saja anda terbiasa melakukan musyawarah di rumah tangga anda? Apakah semua anggota rumah tangga anda telah mengerti pentingnya keterbukaan dan musyawarah?
  • Keempat, apakah anda merasa setia terhadap pasangan anda? Apa indikasi kesetiaan anda terhadap pasangan anda? Pernahkah anda merasa mengkhianati pasangan anda? Kapan anda mengkhianati pasangan anda? Apa bentuk pengkhianatan anda? Tahukah pasangan anda bahwa anda telah mengkhianatinya? Bagaimana reaksinya ketika pasangan anda mengetahui? Apakah anda sepenuhnya mempercayai pasangan anda? Apa bentuk kepercayaan anda kepada pasangan anda?
  • Cobalah anda merenung sejenak, lakukan bersama pasangan anda. Cobalah menjawab beberapa pertanyaan di atas sejujurnya. Agar anda mengetahui apakah cinta telah melingkupi rumah tangga anda.

About bedjonugroho

ESQ: Berhentilah bekerja dengan biasa. Coba rasakan kepuasan yg begitu indah saat kita mengeluarkan semua potensi yang dimiliki untuk kemajuan lingkungan.Slm 165 ESQ: Saat kita bertemu dg orang, perhatikan dg seksama. Slalu ada hal yg bisa kita ambil hikmahnya dari ptemuan itu. Krn tak ada yg kbetulan di dunia ini.Slm 165 ESQ: Mohonlah pada Al Mughniy Yang Maha Menganugerahi Kekayaan agar hati kita tdk mjd miskin. Dg hati yg kaya, kita akan mampu mjd manfaat bagi sekitar. Slm 165. ESQ: Ya Allah, jadikan kami termasuk orang yg beruntung dan jangan hilangkan semangat di dada kami. Agar kami tetap bisa terus berlari menuju cita-cita kami.Amin. Slm 165 ESQ: Coba luangkan waktu sbentar unt melihat apa yg telah kita miliki. Keluarga, ksehatan dan kyakinan dlm hati. Jadi, sertakan SYUKUR dlm ingatan kita. Slm 165 ESQ: Perhatikan hidup kita. Tnyata smuanya adlh crita yg saling brhubungan. Lihatlah dg mata hati, temukn kasih sayangNYA di stiap episode hdup kita. Slm 165. ESQ: Ikhtiar dan disiplin adlh langkah berikutnya stlh kita berencana. Bangun! Segera wujudkan semua mimpi kita. Jangan tunda langkah kita menuju sukses. Slm165. ESQ: BACA tanda2 kkuasaanNYA spy kita dpt mjawab ptanyaan siapa, dimana, dan mau kemana kita. Krn dg mdapat jawaban itu, kita akn mrasakan kbahagiaan sejati. Slm165. ESQ: Letakkan msalah pada hati yg luas dan lapang. Maka msalah tsbt akan trasa kecil. Hati yg zero,adl hati yg luas krn tdk dibatasi oleh bragam blenggu. Slm165 ESQ: Hidup itu singkat. Jangan buang waktu hny utk bersantai atau merugikan org lain. Berbuat baiklah mulai dari sekarang! Karena waktu kita tdk banyak. Slm165. ESQ: Kita sring ada dlm situasi sulit krn ulah kita sdiri,tp bgitu sring kita dislamatkanNYA.Brsyukurlah.Stp detik hidup kita sbenarnya penuh dg cintaNYA.Slm 165 ESQ: Apakah hari ini akan jd hari yg berat atau justru jd hari yg penuh dg kasih saying-Nya. Itu tergantung pd kita dlm memandangnya. Bukalah mata hati. Slm165 ESQ: Ktika hari ini kita bdoa, jgn lupa mmohon agar dberi ktenangan saat kita glisah, ptunjuk saat diprsimpangan pilihan, cahaya hati saat dkegelapan. Slm165 ESQ: Mohonlah kesabaran kepada ASH SHOBUR, agar diri kita tidak terguncang baik saat menghadapi musibah maupun saat menerima kenikmatan duniawi. Slm165. ESQ: Hindari hati dari iri dan dengki. Jadikan hati kita tersenyum seiring dg senyum di bibir kita. Dg hati yg bersih ternyata hidup itu terasa indah. Slm165. ESQ: Selamat pagi! Tak ada yg tahu, sampai kapan kita masih terus hidup di dunia ini. Jd, mari kita lakukan saja sgl niat baik kita. Mulai detik ini jg. Slm165. ESQ: Pertolongan Allah akan datang setelah doa dan usaha kita yg optimal. Jangan pernah lelah, teruslah berdoa, teruslah berjuang. Slm165. Renungan: Jangan pernah berhenti belajar dari setiap ilmu, setiap orang, setiap kejadian. Saat kita merasa pintar, justru saat itulah sebnarnya kita mulai bodoh. ESQ: Apabila kita tersandung, mohonlah ampun atas segala salah dan jadikan itu sbg pelajaran. Setelah itu kembali bangkit dan berlarilah wujudkan mimpi. Slm165. Renungan: Cukupkah kita bangga saat kita bersikap baik pd org yg baik pd kita? Berbuat baiklah pd orang yg justru tdk baik pd kita. Itu baru membanggakan. ESQ: Ya Allah, jadikan kami mampu mghadirkan Engkau dlm stiap saat hidup kami, hingga apapun yg kami lakukan, kami sadar bhwa Engkau melihatnya.Amin.Slm165
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s