PEMUDA HARI INI, PEMIMPIN MASA DEPAN BANGSA

“Beri aku sepuluh pemuda, maka aku merdekakan negeri ini dari para penjajah” kata Soekarno dan “Bapa di surga, beri hambamu ini 12 Murid, maka akan aku selamatkan manusia dari derita dan kehinaan” kata Yesus Kristus.

Kalimat yang sangat luar biasa, yang dapat menginspirasi diri ini untuk laku prihatin membuat perubahan-perubahan yang sangat mendasar dalam kehidupan ini. Perlu di camkan, bahwa yang dibutuhkan untuk melakukan perubahan yang sangat mendasar didunia ini tidak memerlukan banyak orang, hanya segelintir orang yang tentunya dari golongan pemuda. Ada entry point, yang bisa didiskusikan disini yakni beberapa orang dan pemuda.

Segelintir manusia, yang tahu akan keadaan sekarang, yang memahami bahwa kondisi saat ini bila dibiarkan terus menerus akan berdampak buruk kedepanlah yang bisa melakukan perubahan yang radikal untuk tatanan masyarakat yang lebih baik. Disini diperlukan wahana untuk saling melakukan pengembangan diskursus atau wacana, karena dari diskusi awal inilah saling memahami dan mendukung gerakan akan terjadi dengan sendirinya. Segelintir orang ini perlu melakukan kajian kajian rutin yang mendasar untuk memformulasikan pola perubahan apa yang dibutuhkan dimasyarakat saat ini . Oleh karenannya, bisa kita tengok dalam sejarah perkembangan peradaban, bahwa dunia ini harus berterima kasih kepada orang-orang yang “nyleneh” yang tentunya jumlahnya sedikit, yang mana mereka mau untuk menjadi mainstream bahkan dengan menjadi martir untuk perubahan ini. Makan perlu digaris bawahi, bahwa pertemuan-pertemuan rutin yang dilakukan oleh “manusia-manusia nyleneh” harus perlu dipupuk. Agar kehidupan ini menjadi lebih dinamis dan tentunya akan membawa pada perubahan yang memang kita inginkan.

Kedua adalah pemuda, pemuda adalah harapan semesta, tentunya disini definisi pemuda tidak hanya dilihat dari sudut pandang rentang usia, namun pemuda disini adalah sosok manusia yang memiliki semangat yang luar biasa untuk melakukan upaya-upaya perubahan bagi masyarakatnya. Ciri yang sangat mudah kita temui dari sosok pemuda adalah, sikap optimismenya. Hal ini sangat berbeda dengan orang-orang tua, pemuda masih memiliki waktu untuk bisa mewujudkan cita-cita yang ada dalam benaknya. Masih ada rentang waktu untuk mewujudkan program tersebut. Hal ini sangat berbeda dengan para golongan tua yang sudah tidak memiliki kesempatan waktu dan fisik yang prima untuk mewujudkan cita-citanya, makanya kecenderungan yang ada pada golongan tua adalah bersikap pragmatis dalam menghadapi kenyataan hidup ini. Bukannya untuk berani melakukan perubahan akan tetapi lebih memilih untuk bersikap nyaman dalam memandang kehidupan ini. Akan tetapi yang perlu digaris bawahi, bahwa sebenarnya pemuda disini adalah konotasi, sebuah perumpamaan yang di lekatkan kepada semua orang, siapapun dia yang penting memiliki semangat optimis, progresif untuk melakukan perubahan, dan memberikan warna yang berbeda dalam kehidupan ini. Banggalah menjadi sosok minoritas (sedikit), yang memiliki sifat para pemuda idealis.

Pemuda dan Rehabilitasi Masa Depan Bangsa

Oleh: Kupret El Kazhiem

Sebelum kita membayangkan bagaimana indahnya masa depan para pemuda, kita harus lebih dahulu merasakan susahnya menciptakan para pemuda masa depan. Gejala, situasi dan kondisi bangsa di segala bidang kehidupan bersimbiotik secara alami dengan para pemuda dan generasi berikutnya. Ini pula yang mengakibatkan terkikisnya intelektualitas, kecerdasan emosi dan spiritualitas para pemuda dalam menyikapi krisis multidimensi dewasa ini.

Pemuda adalah aset bangsa yang sangat berharga namun justru semangat kebangsaan mereka habis terkuras untuk berbagai aktivitas politik harian yang melelahkan sebagai efek dari krisis, konflik, dan bencana, sehingga tidak punya lagi energi untuk menyusun imajinasi masa depan Negara-Bangsa. Belum lagi timbulnya gap antar generasi yang cenderung menuju pada sikap permusuhan yang radikal dan konseptual antara “yang serba sama” dengan “yang serba lain”, permusuhan yang menganggap tidak ada gunanya memikirkan hubungan antar manusia, terutama antar generasi.

Berhadapan dengan pudarnya semangat kebangsaan generasi muda dan pengaburan cita-cita proggresssiv di masa depan, maka berbagai imajinasi populer yang hidup subur di dalam berbagai media yang mempunyai daya pengaruh besar terhadap masyarakat -lewat berbagai fenomena materialisme dan hedonisasi- ikut memengaruhi imajinasi-imajinasi kebangsaan lewat bersimbiosisnya budaya politik dengan budaya massa, yang menggiring ke arah berbagai pendangkalan dan banalitas makna politik dan kebangsaan. Imajinasi-imajinasi populer itu sesungguhnya tidak produktif dalam rangka membangun sebuah imajinasi masa depan yang lebih autentik, yang terlepas (selera umum) itu sendiri.

Namun di lain sisi, agaknya tidak salah jika sebagian orang mengatakan bahwa nasionalisme pemuda kita telah berubah menjadi materialisme dan hedonisme, patriotisme telah berubah menjadi apatisme. Fenomena ini dapat kita tangkap dari keengganan sebagian pemuda kita untuk memikirkan masalah kebangsaan. Kegamangan pemuda dalam menghadapi permasalahan bangsa dapat mengurangi agresivitas pembangunan bangsa.

Sebab lain yang menjadi pemicu lunturnya semangat kebangsaan pada generasi muda saat ini, karena kejenuhan para pemuda dalam memandang wacana kebangsaan yang dikumandangkan elite politik kita. Mereka melihat tidak adanya figur teladan yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi perbaikan keadaan bangsa. Selain itu, sebab lainnya adalah tidak adanya kepercayaan dari golongan tua kepada golongan muda untuk mengadakan transfer ilmu, pengalaman dan kewenangan. Banyak kaum muda yang merasa bahwa kemampuan mereka dalam suatu bidang kurang bisa ditampilkan secara maksimal oleh karena tidak adanya kesempatan untuk menduduki posisi yang penting dalam menentukan kebijakan di negeri ini. Sebagian besar elit politik kita masih memegang paradigma lama yang kurang menghargai profesionalisme dan lebih mementingkan koneksi.

Tidak adanya solidaritas antar generasi hanya membuahkan egoisme di lingkungan generasi yang sama. Hal tersebut dapat dikatakan sebagai ancaman, bukan hanya untuk generasi mendatang tetapi juga dalam makna kebangsaan, bahkan bagi pengertian kemanusiaan itu sendiri; Kemanusiaan yang beradab. Jadi yang sebenarnya teringkari oleh retret temporal dan simbolik dewasa ini adalah justru struktur “hidup bersama” baik dalam orientasi sinkronisnya (solidaritas antar orang) maupun orientasi diakronisnya (solidaritas antar usia). Sedangkan “hidup bersama” ini, vivre ensemble -menurut Ernest Renan dan sering dikutip oleh Bung Karno, justru merupakan salah satu dasar pokok dari pembentukan Negara-Bangsa.

Adanya tirani urgensi dengan gaya dadakannya, juga membuat kriteria aksi yang simpel -fleksibilitas dan adaptasi- menjadi asas absolut dalam pengambilan keputusan. Keluwesan ini bisa saja membuahkan manfaat sesaat, terutama di latar politik, bahkan ada yang membaptiskannya sebagai “demokrasi”. Namun keluwesan ini membawa risiko yang kefatalannya baru terasa dalam jangka panjang, sesudah terlambat, dan setelah generasi mendatang terjebak dalam entropi dan immobilisme.

Berhubung pembawaan alami urgensi adalah mengabaikan pandangan perspektif dan antisipasi, gerakan dari satu adaptasi sesaat ke adaptasi sesaat lain yang terus menerus hingga membudaya, membuat setiap langkah pemecahan instan yang diambil semakin menjauhi cita-cita semula, semakin menyimpang dari tujuan kolektif awal. Sedangkan elaborasi jawaban yang relatif kekal terhadap masalah-masalah manusia, pembangunan dan lingkungan, menuntut adanya suatu pandangan berjangka temporal jauh dan diarahkan ke masa depan.

Mengingat generasi sekarang bisa belajar dari berbagai kekeliruan dan kegagalan generasi sebelumnya, sepatutnya lebih dapat terhindar dari reproduksi sejarah yang buram. Maka generasi muda seharusnya merasa terpanggil untuk melawan, berusaha keras untuk tidak terjebak dalam perangkap ganda yang berupa realisme katastropis (keingkaran) dan utopia ilusif (retret) sebagaimana disebut pada bagian awal tulisan. Dalam konteks itulah, sebuah konsolidasi gerakan kaum muda harus terus-menerus digalang dan diperkuat. Konsolidasi itu tak cukup dengan sumpah, tapi perlu kesadaran untuk menggabungkan kekuatan moral, intelektual, profesional, dan perjuangan dalam berbagai aspek kehidupan agar mampu membentuk suatu perspektif temporal baru, merintis jalan ke arah jauh ke depan. Merubah tatapan dan penalaran tentang masa depan. Pendek kata, pemudalah kandidat utama demi merehabilitasi masa depan.

Generasi muda calon pemimpin bangsa ini di kemudian hari dituntut agar mempunyai visi prospektif, pandangan atas sesuatu di masa depan bukan sebagai realitas tersembunyi yang sudah memiliki suatu eksistensi dan dapat ditemukan orang dengan menggunakan metode-metode ilmiah yang sesuai, tetapi lebih berupa hasil yang telah diprakirakan, atau diperoleh secara sengaja, sistematik, konsisten dan terarah sebelumnya. Jadi visi progressif dibangun berdasarkan postulat bahwa para pemuda terpanggil untuk membangun masa depan diri dan bangsanya agar benar-benar siap dalam menghadapi tantangan perubahan zaman yang beraneka ragam, meski tidak pasti serta serba kompleks. Sebab itu adanya keharusan untuk merenung ke depan setiap kali timbul keperluan dalam mengambil keputusan-keputusan yang signifikan. Pemuda harus kembali mengambil peran-peran monumental sehingga menjadi pijakan kokoh untuk langkah pembangunan selanjutnya.

PEMUDA DAN MASA DEPAN BANGSA

Di ruangan yang tak seberapa besar itu, puluhan pemuda duduk rapih. Mereka dengan cermat mendengarkan paparan tokoh-tokoh pergerakan dengan perasaan was-was. Sewaktu-waktu bisa saja rapat itu dibubar paksa oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Namun demikian mereka tetap yakin untuk tetap menyelesaikan rapat itu. Hasil rapat itu yang, entah kenapa, sering disebut Sumpah Pemuda.

Creative Minor

Kedudukan pemuda sebagai generasi penerus bangsa selalu terhormat di panggung sejarah. Kehadiran mereka selalu membawa tendensi-tendensi yang tidak sinkron dengan jiwa zamannya. Pemuda menjadi insan yang kreatif dan gelisah menghadapi masa yang tidak sesuai jati dirinya. Ia menjadi minoritas, tetapi tidak lantas marginal. Sebaliknya, ia menjadi aktor utama yang mampu mengubah roda peradaban.

Lihatlah perjalanan sejarah bangsa ini. Kehadiran pemuda selalu ada dan ikut mewarnai perubahan zaman. Tentu masih kita ingat diskusi Soetomo, seorang murid sekolah dokter Jawa (STOVIA) dan Wahidin Soedirohoesodo, seorang dokter Jawa yang hampir pupus harapannya untuk memajukan pendidikan dan budaya Jawa. Ketika kegelisahan dan asa bertemu maka terbentuknya Boedi Oetomo (BO) yang selalu kita peringati sebagai Hari Kebangkitan Nasional (HKN).

Dua puluh tahun kemudian, ketika Pemerintah Kolonial Belanda membatasi dan mengawasi aktivitas tokoh-tokoh dan partai-partai politik, para pemuda berani mengambil resiko untuk melaksanakan rapat yang ditabukan pada masa itu. Lebih dari itu, mereka mau menanggalkan segala atribut etnisitas demi persatuan bangsa. Dengan iringan biola dan lagu Indonesia Raya karya W.R. Soepratman, mereka berikrar berbahasa, bertanah air, dan berbangsa satu.

Kaum muda lagi-lagi beraksi. Mereka dengan gigih, di bawah pengawasan militer ketat Jepang, mendorong para tokoh-tokoh golongan tua nasional untuk segera memroklamasikan kemerdekaan. Begitu antusiasnya, para pemuda itu sempat menyandera para seniornya untuk segera menyatakan kemerdekaan Indonesia. Betul saja tekanan kaum muda itu menjadi indikator bagi Soekarno-Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan bangsa ini.

Setelah Indonesia merdeka, sikap kaum muda pun tidak luntur. Ketika kejenuhan zaman sudah memuncak, kaum muda datang untuk mendesak perubahan. Itulah yang terjadi ketika kekacauan telah mencapai titik kulminasi. Kediktatoran Soekarno sudah tidak dapat lagi dimaklumi oleh para pemuda. Sikap Soekarno yang memusuhi KAMI dan menutup Kampus Universitas Indonesia tidak memadamkan asa, tetapi melecutkan semangat pemuda untuk mengulingkan Demokrasi Terpimpinnya Soekarno. Walaupun kekuatan kaum muda ini ditungangi pihak-pihak yang berkepentingan secara politik, namun lagi-lagi pemuda mampu menjadi agen perubahan zaman.

Rezim Orde Baru yang mengedepankan stabititas di segala bidang terbukti tak berdaya melawan kekuatan kaum muda. Saat krisis multidimensioanal mengoyang Orde Baru, pemuda kekuatan yang mampu membuat Soeharto menyerah meletakkan jabatan yang telah diemban selama 32 tahun. Pemuda bersorak, namun terpukul. Pemerintahan reformis yang mereka idam-idamkan sampai sekarang tak kunjung muncul. Justru yang tampil kepermukaan adalah kamuflase dan metamorfosis Orde Baru.

Budak Peradaban

Keikutsertaan pemuda sebagai salah satu agen penting perubahan pada masa-masa krisis yang menandai akhir periode sejarah memang tak dapat dipungkiri. Namun demikian, sampai sejauh mana peran pemuda di zaman normal? Apakah suara lantang kaum muda menjadi sumbang dan sekedar angin lalu. Atau malah kehilangan suara kegelisahan dan gairah perjuangannya.

Saya cenderung untuk menyetujui alternatif yang terakhir. Dengan kata lain, pemuda tidak lagi menjadi aktor yang memainkan plot-plot sejarah. Pemuda hanya menjadi penonton yang sesekali hanya bersorak ketika para aktor melakukan kesalahan, tanpa memberikan solusi yang adaptif. Mengapa hal itu terjadi?

Seorang penulis berkata, “para pemuda kehilangan musuh bersamanya”. Oleh karena itu, mereka tidak lagi menjadi agen-agen perubahan, tetapi budak-budak yang terjebak pada buaian budaya populer. Mereka bermetamorfosis menjadi manusia-manusia yang patuh pada perintah tuan-tuannya. Kreativitas mereka menjadi tumpul, kegelisahan mereka dilesapkan, dan gairah mereka dibelokkan pada materialisme hampa.

Generasi muda adalah penerus bangsa. Bila kaum mudanya bobrok, pastilah bangsanya korup. Oleh karena itu pemuda harus bersatu memeperjuang kreativitas, kegelisahan, dan gairah dalam sebuah media yang tepat sehingga gagasan-gagasan itu tidak didasarkan pada pemikiran-pemikiran dangkal dan instan, tetapi terencana dan berproses. Dengan begitu, pemuda dapat memainkan peranannya di setiap langkah sejarah bangsa ini dalam rangka menentukan masa depan bangsa ini. Jangan sampai, kekuatan kaum muda hanya dijadikan batu loncatan bagi pihak-pihak yang berkepentingan.
sUMBER : http://kupretist.multiply.com;http://widaryanti.blogspot.com;http://teguhmanurung.wordpress.com

About bedjonugroho

ESQ: Berhentilah bekerja dengan biasa. Coba rasakan kepuasan yg begitu indah saat kita mengeluarkan semua potensi yang dimiliki untuk kemajuan lingkungan.Slm 165 ESQ: Saat kita bertemu dg orang, perhatikan dg seksama. Slalu ada hal yg bisa kita ambil hikmahnya dari ptemuan itu. Krn tak ada yg kbetulan di dunia ini.Slm 165 ESQ: Mohonlah pada Al Mughniy Yang Maha Menganugerahi Kekayaan agar hati kita tdk mjd miskin. Dg hati yg kaya, kita akan mampu mjd manfaat bagi sekitar. Slm 165. ESQ: Ya Allah, jadikan kami termasuk orang yg beruntung dan jangan hilangkan semangat di dada kami. Agar kami tetap bisa terus berlari menuju cita-cita kami.Amin. Slm 165 ESQ: Coba luangkan waktu sbentar unt melihat apa yg telah kita miliki. Keluarga, ksehatan dan kyakinan dlm hati. Jadi, sertakan SYUKUR dlm ingatan kita. Slm 165 ESQ: Perhatikan hidup kita. Tnyata smuanya adlh crita yg saling brhubungan. Lihatlah dg mata hati, temukn kasih sayangNYA di stiap episode hdup kita. Slm 165. ESQ: Ikhtiar dan disiplin adlh langkah berikutnya stlh kita berencana. Bangun! Segera wujudkan semua mimpi kita. Jangan tunda langkah kita menuju sukses. Slm165. ESQ: BACA tanda2 kkuasaanNYA spy kita dpt mjawab ptanyaan siapa, dimana, dan mau kemana kita. Krn dg mdapat jawaban itu, kita akn mrasakan kbahagiaan sejati. Slm165. ESQ: Letakkan msalah pada hati yg luas dan lapang. Maka msalah tsbt akan trasa kecil. Hati yg zero,adl hati yg luas krn tdk dibatasi oleh bragam blenggu. Slm165 ESQ: Hidup itu singkat. Jangan buang waktu hny utk bersantai atau merugikan org lain. Berbuat baiklah mulai dari sekarang! Karena waktu kita tdk banyak. Slm165. ESQ: Kita sring ada dlm situasi sulit krn ulah kita sdiri,tp bgitu sring kita dislamatkanNYA.Brsyukurlah.Stp detik hidup kita sbenarnya penuh dg cintaNYA.Slm 165 ESQ: Apakah hari ini akan jd hari yg berat atau justru jd hari yg penuh dg kasih saying-Nya. Itu tergantung pd kita dlm memandangnya. Bukalah mata hati. Slm165 ESQ: Ktika hari ini kita bdoa, jgn lupa mmohon agar dberi ktenangan saat kita glisah, ptunjuk saat diprsimpangan pilihan, cahaya hati saat dkegelapan. Slm165 ESQ: Mohonlah kesabaran kepada ASH SHOBUR, agar diri kita tidak terguncang baik saat menghadapi musibah maupun saat menerima kenikmatan duniawi. Slm165. ESQ: Hindari hati dari iri dan dengki. Jadikan hati kita tersenyum seiring dg senyum di bibir kita. Dg hati yg bersih ternyata hidup itu terasa indah. Slm165. ESQ: Selamat pagi! Tak ada yg tahu, sampai kapan kita masih terus hidup di dunia ini. Jd, mari kita lakukan saja sgl niat baik kita. Mulai detik ini jg. Slm165. ESQ: Pertolongan Allah akan datang setelah doa dan usaha kita yg optimal. Jangan pernah lelah, teruslah berdoa, teruslah berjuang. Slm165. Renungan: Jangan pernah berhenti belajar dari setiap ilmu, setiap orang, setiap kejadian. Saat kita merasa pintar, justru saat itulah sebnarnya kita mulai bodoh. ESQ: Apabila kita tersandung, mohonlah ampun atas segala salah dan jadikan itu sbg pelajaran. Setelah itu kembali bangkit dan berlarilah wujudkan mimpi. Slm165. Renungan: Cukupkah kita bangga saat kita bersikap baik pd org yg baik pd kita? Berbuat baiklah pd orang yg justru tdk baik pd kita. Itu baru membanggakan. ESQ: Ya Allah, jadikan kami mampu mghadirkan Engkau dlm stiap saat hidup kami, hingga apapun yg kami lakukan, kami sadar bhwa Engkau melihatnya.Amin.Slm165
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s